Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Semiotika Puisi Suara Dari Ruma-Rumah Miring Karya Wiji Thukul

 

Semiotika Puisi Suara Dari Ruma-Rumah Miring Karya Wiji Thukul

Puisi merupakan salah satu jenis  karya sastra. Jika diperbandingkan dengan dengan jenis-jenis karya sastra yang lainnya, secara fisik dan struktur puisi memiliki bentuk yang paling sederhana tetapi memiliki makna yang sangat dalam bagi penulis dan pembaca. Menurut Waluyo (dalam Pribadi dan Dida, 2019) berpendapat bahwa puisi merupakan karya sastra yang memanifestasikan atau mengimplemantasikan pikiran dan keadaan jiwa seorang penyair atau penulis puisi secara imajinatif dan disusun dengan menfokuskan kepada kemahiran berbahasa dengan menghubungkan struktur fisik dan batinnya.  Keindahan sebuah puisi dilihat dari penggunaan bahasanya. Puisi menggunakan bahasa yang bersifat konotasi artinya bahasa yang digunakan tidak memiliki makna sebenarnya dengan seperti apa yang terlukis atau memiliki makna ganda. Semakin banyak penggunaan bahasa yang bersifat konotasi maka nilai seni yang terkandung semakin tinggi.

Penggunaan bahasa yang bersifat konotasi tersebut memiliki hubungan erat dengan simbol dan tanda. Sebuah puisi bisa dinikmati melalui penanda atau simbol yang terdapat pada sebuah puisi (Pribadi dan Dida, 2019). Penggunaan simbol merupakan sebuah perlambangan yang sangat multitafsir, karena setiap pembaca akan memberi makna yang berbeda-beda. Tidak hanya terjadi pada antara pembaca dengan pembaca lainnya saja, tetapi juga terjadi antar penulis dan pembaca. Apa yang dimaksud penulis berbeda dengan apa yang dimaksud pembaca. Hal itu menjadi nilai unggul sebuah karya sastra terutama puisi. 

Fenomena simbol, tanda penanda, dan perlambangan merupakan sesuatu yang biasa terjadi pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Fenoma tersebut tidak hanya terjadi pada karya sastra saja, tetapi juga dalam hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti penamaan terhadap sesuatu, penggunaan sesuatu, atau kebiasaan yang terjadi dalam masyarakat, dan lain-lainnya. Fenoma simbol, penanda, dan perlambangan tersebut berhubungan dengan ilmu yang mengkajinya yaitu semiotika. Menurut Dick Hartoko (dalam Pribadi dan Dida,2019) berpendapat bahwa semiotika adalah ilmu yang secara kontekstual penanda dan lambang, sistem dan perlambangan. Pada hakikatnya semiotika adalah bidang keilmuan yang mengkaji semua tanda kehidupan yang tumbuh di masyarakat.

Secara etimologi semiotika berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “semeion” yang berarti tanda atau “seme” yang berarti penafsir tanda. Pelopor dan peletak dasar ilmu semiotika ini yaitu Charles Sanders Peirce dan Ferdinand de Saussure.  Menurut Wiryaatmadja (dalam Pribadi dan Dida,2019) berpendapat bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam maknanya di dalam masyarakat, baik lugas atau literal maupun kias atau figuratif baik yang menggunakan bahasa atau non-bahasa. Semiotika mempelajari tentang sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Kriyantono dalam Puspitasari, 2021). Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Salah satu kegunaan ilmu semiotika ini yaitu untuk mentafsirkan suatu tanda yang terdapat pada berbagai elemen yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Hasil dari kegiatan penafsiran tanda tersebut yaitu untuk memahami terhadap  sesuatu yang kita lakukan  dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep semiotika yang dikemukakan C.S. Pierce membagi semiotika menjadi tiga unsur yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ketiganya didefiniskan sebagai berikut. Ikon adalah benda fisik yang menyerupai apa yang direpresentasikannya. Representasi tersebut ditandai dengan kemiripan, contoh : gambar, patung, lukisan, dan lain-lainnya. Ikon didefinisikan sebagai tanda yang mirip antara benda aslinya dengan apa yang dipresentasikan. Indeks adalah hubungan antara tanda dan petanda yang berhubungan sebab-akibat, karena tanda dalam indeks tidak muncul jika petandanya tidak hadir. Simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petanda. Hubungan tersebut bersifat arbiter atau semena-mena.

Tujuan analisis ini adalah untuk memahami dan mengetahui tanda yang berupa indeks, ikon, dan simbol yang terdapat puisi pada Suara Dari Rumah-Rumah Miring. Puisi tersebut ditulis oleh Wiji Thukul pada tahun 1987. Secara singkat puisi tersebut menggambarkan keadaan masyarakat miskin yang berada di tengah ibu kota. Wiji Thukul sebagai penulis puisi, menggunakan berabagai tanda yang diimplementasikan dalam bentuk metafora. Puisi bentuk sebuah kritik yang ditujukan kepada pemerintah agar mereka memerhatikan rakyat yang masih kesulitan. Tidak hanya itu, dalam puisi tersebut juga menyampaikan harapan-harapan yang dimiliki oleh rakyat-rakyat kecil tersebut.

Ikon yang terdapat pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring ditemukan pada bait keenam, kesebelas, dan ketujuh belas yaitu “bersama tumpukan gombal-gombal dan piring-piring”, “Dari atap ke atap”, dan “sandiwara obat-obatan”. Pertama,”tumpukan gombal-gombal” tersebut berarti baju atau pakaian. Kata”gombal” sering digunakan oleh masyarakat Jawa yang disamakan dengan pakaian-pakaian. Penggunaan kata”gombal” digunakan untuk merujuk kepada pakaian yang jumlahnya banyak. Kedua, “Dari atap ke atap” berarti atap rumah atau bagian atas rumah. Kata “atap” tersebut disamakan dengan atas atau genting rumah. Akan tetapi, konteks pada puisi tersebut “atap” yang dimaksud adalah langit yang berada di bagian atas atap atau genting rumah. Ketiga, “sandiwara obat-obat” yang digunakan untuk merujuk kepada hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. Obat disamakan dengan kesehatan karena  meraka saling terkait. Obat menjadai bagian dari kesehatan. “Sandiwara obat-obat” tersebut memiliki makna bahwa berita-berita tentang kesehatan yang selalu didengar oleh mereka melalui radio. Ikon-ikon diartikan melalui persamaan yang berkaitan dengan hal-hal yang tersiratkan dalam puisi. Melalui persamaan tersebut, maka dapat diketahui makna yang dimaksud bait-bait pada puisi tersebut.

Indeks yang terdapat pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring ditemukan pada bait pertama dan ketiga Kata-kata yang termasuk pada indeks puisi tersebut seperti “menikmati cicit tikus” dan  “mencium selokan dan sampan”. Pertama, “menikmati cicit tikus” terdapat bait pertama. Arti dari “cicit tikus” adalah suara berisik tikus. Suara cicit tikus tersebut akibat dari adanya tikus di dalam rumah. Puisi tersebut menggambarkan keadaan rumah yang berada di pinggiran kota, berada di wiliyah kumuh dengan banyak sampah. Oleh karena itu, penyebab adanya suara tikus yang sering kali terdengar. Kedua, “mencium selokan dan sampan” terdapat pada bait ketiga. Bait “kami mencium selokan dan sampan” memiliki makna bahwa rumah mereka terletak pada daerah yang sempit sehingga bau selokan dapat tercium. Untuk itu, penyebab adanya bait tersebut adalah gambaran bahwa rumah mereka terletak pada daerah yang sempit. Bau tersebut berasal dari sampah yang terdapat di selokan. Makna indeks  merujuk kepada hubungan sebab-akibat yang dimuncul dalam diksi. Diksi tersebut bisa berupa sebab atau akibat. Cara mentafsirkannya yaitu dengan melihat konteks kalimat pada bait.

Simbol yang terdapat pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring seperti “rumah miring”, “matahari menyelinap”, “hari-hari pengap”, dan “angkat kaki” Keempat simbol yang terdapat pada puisi memeiliki arti yang berbeda-beda. Pada frasa “rumah miring” memiliki makna rumah yang akan roboh. “Rumah miring” menjadi simbol terhadap rumah-rumah kecil yang terletak di pinggiran kota dengan material bangunan yang tidak berkualitas sehingga strukturnya tidak kokoh. Kedua, “matahari menyelinap” merupakan simbol waktu yaitu siang hari karena adanya matahari ketika waktu siang hari, dimana matahari muncul di atap rumah. Ketiga, “hari-hari pengap” merupakan simbol ketidaknyamanan yang dirasakan setiap harinya. Keempat “ angkat kaki” merupakan simbol untuk pergi dari tempat yang ditinggali. Frasa tersebut memiliki makna yang cukup kasar yaitu perintah untuk meninggalkan tempat atau pergi dengan cara diusir. Simbol meruapakan makna konotasi yang terkandung di dalam petanda.

 Berdasarkan analisis yang telah dilakukan di atas maka dapat disimpulkan terdapat beberapa hal seperti adanya ikon, indeks, dan simbol yang ada pada puisi Suara dari Rumah-Rumah. Ikon pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring berjumlah tiga, indeks berjumlah dua, dan simbol berjumlah empat. Melalui analisis puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring karya Wiji Thukul dengan menggunakan konsep semiotika Pierce, maka dapat mempermudah makna yang terkandung dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Makna yang terkandung puisi yaitu penulis ingin menjelaskan dan menggambarkan bagaimana keadaan orang-orang pinggiran kota. Penulis menjelaskan menggunakan sudut pandang suasana rumah yang berada di pinggir kota yang jauh dari rasa nyaman.

Intertekstualitas Novel Senja, Hujan, dan Cerita yang telah Usai Karya Boy Candra dan Novel Hujan Karya Tere Liye

 A. Latar Belakang 

Artikel ini mengulas kajian mengenai intertekstual dalam novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai karya Boy Candra dengan novel Hujan karya Tere Liye karena ditemukan adanya persamaan atau kemiripan. Adanya kemiripan alur dan tema pada kedua novel membuat keduanya diprediksi memiliki hubungan intertekstualitas.  Berdasarkan perihal yang melatarbelakangi terjadinya kajian intertekstual, peneliti menyakini bahwa kajian intertekstual bisa digunakan sebagai salah satu alternatif bahan ajar pada siswa tentang menulis karya sastra. Pada artikel ini diharapkan kajian atau penelitian intertekstualitas bisa membantu guru dalam memberikan arahan kepada siswa mengenai proses menulis. Siswa bisa melakukan pengamatan terhadap karya sastra milik orang lain dengan membaca untuk menemukan ide menulis dan menjadikannya sebuah karya.


B. Rumusan Masalah 

Pada novel Senja, Hujan, dan Cerita karya Boy Candra dan novel Hujan Karya Tere Liye ini mengangkat rumusan masalah berupa keterkaitan tema dan latar antara kedua novel tersebut.

C. Landasan Teori 

Pada jurnal penelitian ini menggunakan beberapa landasan teori yang dikemukakan beberapa ahli seperti Julia Kristeva yang mengembangkan pemikiran dari Michael Bakhtian, kemudian Teeuw, dan Riffaterre. Teori – teori yang mereka kemukakan menjelaskan alasan munculnya teori intektualitas dan  menjelaskan adanya  hubungan teks satu dengang teks lain. Julia Kristeva secara singkat menjelaskan bahwa alasan munculnya teori intertektualitas salah satunya adalah  karena kegiatan membaca penulis terhadap teks lain sebelum melakukan penulisan teks. Hal tersebut akan mempengaruhi hasil penulisan pengarang. Kemudian menurut Teeuw dan Riffaterre menjelaskan hubungan antara teks satu dengan teks yang lainnya. Jika teks yang diserap dinamakan hipogram sedangkan yang menyerap adalah transformaasi. Kemudian kesimpulan dari pendapat tersebut adalah fenomena resepsi pengarang terhadap teks-teks yang pernah dibaca kemudian dilibatkan dalam hasil karyanya. Teori-teori tersebut digunakan sebagai landasan dari penelitian hubungan antara novel Senja,Hujan, dan Cerita karya Boy Candra dan novel Hujan karya Tere Liye. Berdasarka teori-teori tersebut, maka akan ditemukan alasan mengapa bisa terjadi kesamaan antara dua novel tersebut. 

D. Metode Penelitian 

Berdasarkan kedua rumusan masalah tersebut, penelitian ini menggunakan metode berupa dekskriptif kualitatif yang menganalisis kalimat yang mengekspresikan adanya unsur intrinsik dan hubungan intertekstualitas antara novel Senja, Hujan, dan Cerita dan novel HujanSedangkan metode yang dilakukan yaitu pengelompokan, pengkodean, pengklasifiksi, penginterpretasian, dan pendeskripsian data. Dan kesensitifan data diuji dengan validitas semantik.

E. Hasil Pembahasan 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan tema dan alur antara novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai karya Boy Candra dengan novel Hujan karya Tere Liye. Dasar kesamaan tema dan alur ini didukung oleh kesamaan peristiwa-peristiwa dalam cerita yang menunjukkan hubungan intertekstualitas antara kedua novel. Sebagai karya yang terbit lebih dahulu, novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai adalah hipogram dan novel Hujan sebagai transformasi. Pada tema dan alur transformasi novel Hujan sedikit meneruskan dan banyak menyimpangi hipogramnya.

Hasil analisis pertama mengenai tema, dimana kedua novel memiliki keterkaitan yang erat. Keduanya menjadikan ‘hujan’ sebagai simbol yang mengingatkan tokoh utama terhadap hal-hal yang berarti dalam hidupnya. Novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai menceritakan tokoh aku (tokoh utama) yang berusaha melupakan sahabat perempuan yang dicintainya. Tokoh aku memiliki kenangan indah bersama ‘hujan’, tetapi di akhir waktu kenangan-kenangan tersebut menjadi hal yang menyakitkan dan ingin ia lupakan. Novel Hujan menceritakan seorang tokoh perempuan yang hidup pada tahun 2050, dimana kejadian-kejadian indah dan buruk dalam hidup tokoh tersebut terjadi ketika ‘hujan’. Diperoleh bahwa kedua novel sama-sama dibangun dari tiga tema minor dan satu tema mayor. Tema minor pertama menggambarkan ‘hujan’ sebagai kenangan buruk bagi tokoh, kedua menggambarkan ‘hujan’ sebagai kenangan indah, ketiga menggambarkan kedua tokoh dalam novel berusaha melupakan kenangannya. Sedangkan tema mayor dalam kedua novel adalah tentang cinta dan melupakan. Sedikit perbedannya terletak pada novel Hujan yang banyak dibumbui persoalan keluarga dan persahabatan.

Hasil analisis kedua mengenai alur, dimana kedua novel sama-sama menggunakan alur campuran. Diperoleh bahwa dalam novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai karya Boy Candra dan novel Hujan karya Tere Liye sama-sama terdapat tujuh tahapan alur cerita. Tahap pertama yaitu perkenalan tokoh, kedua permasalahan mulai muncul, ketiga munculnya konflik, keempat konflik mulai memuncak, kelima puncak konflik, keenam penyelesaian konflik, dan terakhir tahap penyelesaian. Tahapan-tahapan tersebut menunjukkan alur cerita berdasarkan kriteria waktu. Sedangkan alur cerita berdasarkan kriteria isi, kedua novel termasuk plot peruntungan karena seluruh isi cerita berdasarkan nasib dan peruntungan tokoh utama.

 

 

Estetika dalam Naskah Drama Zetan Karya Putu Wijaya

Kajian estetika dalam naskah drama Zetan karya Putu Wijaya

Naskah drama Zetan merupakan salah satu karya dari penulis legendaris yaitu Putu Wijaya. Naskah drama ini terbit pada tahun 2006. Naskah drama ini menceritakan tentang seorang guru yang memutuskan keluar dari sekolahan dimana dirinya bekerja. Guru tersebut merasa tidak nyaman dengan sistem pendidikan yang diterapkan oleh  sekolahan tersebut. Sistem yang dijalankan tidak sesuai dengan prinsip yang dianutnya, hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk keluar. Ia menyampaikan ketidaksetujuannya dan kritiknya dengan monolog dan secara tersurat. Ia memutuskan mencari pekerjaan selain menjadi guru seperti menjadi tukang becak. Tetapi dirinya tidak merasa nyaman karena jati dirinya sesungguhnya yaitu mengajar. Hingga suatu hari datanglah seseorang yang bernama Zetan yang ingin berguru dengannya. Zetan ingin diajari bagaimana cara menjadi pahlawan. Kemudian guru pun mampu mengabulkan keinginan dari Zetan tersebut dengan memberikan nasihat dan kiat-kiat bagaimana menjadi seorang pahlawan.  Selain memberi nasihat, guru pun juga memberikan saran untuk Zetan agar pergi ke tempat bernama Indonesia supaya benar-benar menjadi pahlawan sejati.

Setiap karya sastra memiliki unsur estetik atau keindahan. Unsur estetik bisa secara langsung tersurat ataupun tersirat sehingga perlu telaah lebih mendalam untuk mengetahuinya. Salah satu unsur estetika pada karya sastra terdapat pada penggunaan bahasa. Unsur estetik menjadi sumber daya tarik untuk pembaca dalam  menikmati suatu karya sastra. Tidak hanya menjadi sumber daya tarik, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan kepada pembaca oleh pengarang. Naskah drama merupakan salah satu jenis karya sastra dan pasti juga memiliki unsur-unsur estetik yang terkandung. Adapun unsur estetik karya  dapat dikaji menggunakan enam parameter seperti kesatuan, keserasian, kesimestrisan, pertentangan, perlambangan, dan kebahasan. Berikut ini kajian unsur estetik dalam naskah drama Zetan karya Putu Wijaya dengan menggunakan parameter tersebut.

Melalui parameter kesatuan, keestetikan naskah drama dapat dilihat melalui keruntutan alur cerita. Alur yang digunakan pada sebagian besar naskah drama adalah alur maju. Begitupun dengan naskah drama Zetan yang juga menggunakan alur maju. Karena cerita yang disajikan termasuk cerita yang sederhana dan berupa percakapan maka sangat diperlukan penggunaan alur maju. Pada awal cerita nakah drama ini, tokoh guru melakukan monolog dengan menyampaikan pendapatnya tentang sistem pendidikan di Akademik Mandiri yang buruk dan tidak sesuai dengan prinsip hidupnya. Kemudian dilanjutkan percakapan dengan beberapa orang yang berada di rumah seperti istrinya.  Penggunaan alur cerita yang runtut membuat pembaca tidak merasa bingung saat menikmatinya.

Adapun kesimetrisan yang terdapat pada naskah drama ini dilihat melalui judul yang digunakan dengan isi cerita yang terkandung. Penggunaan kata ”Zetan” pada judul memiliki arti “Setan“ yang ditunjukkan dengan memunculkan tokoh yang bernama Zetan. Jika setan pada kehidupan sehari-hari digambarkan dengan karakter  yang buruk dan tercela, tetapi pada naskah drama ini penulis menggambarkan setan sebagai karakter yang baik. Hal itu dibuktikan dengan dirinya ingin menjadi pahlawan dan bisa membantu orang banyak. Tetapi juga terdapat maksud tersirat dengan menggunakan judul ” Zetan” yaitu menggambarkan keburukan dari sistem pendidikan Indonesia sama halnya dengan sifat asli makhluk setan yang buruk dan licik.

Pada naskah drama ini unsur pertentangan digambarkan pada konflik batin tokoh guru dan setan. Tokoh guru merasa sangat marah dan kecewa dengan buruknya sistem birokrasi pendidikan. Ia merasa sedih dan miris dengan bangsa ini jika sistem  yang buruk tetqpi masih tetap bertahan tanpa adanya perubahan. Ia juga merasa cemas dengan kelangsungan bangsa ini, jika sistem pendidikan yang hanya mementingkan kuantintas tanpa memperdulikan kualitas. Semua hanya mementingkan keuntungan tanpa memperhatikan apakah cara yang digunakan sesuai atau tidak. Sehingga sumber manusia yang tercipta juga buruk. Mereka akan terbentuk karakter yang hanya fokus kepada hasil tanpa peduli dengan prosesnya, sehinggan terbentuklah  karakter sebagai orang-orang yang serakah. Kemudian konflik batin seorang Setan yang merasa bingung dan terancam. Dirinya berusaha untuk menjadi yang baik dengan membantu negara Indonesia yang bobrok, tapi ketika dirinya kembali ke bangsanya justru tidak diterima karena dianggap sebagai ancaman. Karena sesungguhnya setan bukan tercipta untuk membantu kebaikan tetapi suatu keburukan. Hal itu membuat orang-orang di bangsanya terancam karena semua orang telah berubah menjadi baik.

Jika dilihat dari parameter keserasian, Putu Wijaya menyandingkan unsur sosial masyarakat dan pendidkan. Penyandingan kedua unsur tersebut digunakan sebagai pengembangan tema yang diangkat yaitu kritik terhadap pendidikan. Penyandingan antar unsur tersebut membantu penulis menyampaikan pesan dan kritik  sehingga dapat diterima oleh pembaca. Terkadang tidak adanya media yang sesuai  maka  kritik sulit untuk tersampaikan.  Oleh karena itu, dengan menggunakan  karya sastra ini kritik terhadap pemerintah dapat tersampaikan dengan baik.

Keestetikan naskan drama ini juga dapat dilihat dari parameter keseimbangan, dimana keseimbangan tersebut dapat dilihat menggunakan sudut pandang yang digunakan. Naskah drama Zetan menggunakan sudut pandang orang pertama “aku” yang berperan sebagai tokoh utama yaitu guru. Untuk melihat sudut pandang dan  tokoh utama yang terdapat di naskah drama, maka dapat dilihat melalui percakapan yang terbanyak. Tokoh utama “aku” menjadi sentral cerita dengan ditunjukkan melalui monolog yang dilakukannya dan dialog-dialognya yang dominan daripada tokoh yang lain. Monolog yang dilakuakannya sendiri menjadi kunci jalannya cerita pada naskah drama ini. Seluruh pesan dan kritik terdapat pada monolog yang disampaikan oleh tokoh “aku” yaitu guru. Tetapi munculnya tokoh lain dalam setiap percakapan memiliki peran yang sangat penting juga. Karena tanpa adanya tokoh lainnya cerita tidak akan berjalan dengan baik dan muncullah keseimbangan pada cerita. 

Parameter selanjutnya adalah perlambangan atau simbol yang terdapat pada naskah drama. Kata “Zetan” yang berarti setan menjadi simbol kemarahan penulis terhadap pemerintahan bangsa ini. Sistem pemerintahan yang rusak dan sistem pendidikan yang buruk. Sistem pendidikan yang hanya mementingkan biaya saja tanpa memperdulikan kualitas yang diciptakan. Semua dinilai menggunakan angka seperti biaya dan kelulusan dengan nilai tinggi  menjadi hal yang utama dalam sistem pendidikan ini. Karkater dan moral tidak pernah dipedulikan, sehingga menciptakan orang-orang yang  memiliki budi pekerti yang buruk. Akibatnya terlihat pada orang-orang yang duduk di pemerintahan. Mereka yang tidak berkompeten dan hanya bisa mengandalkan kekayaannya saja. Maka terciptalah pemerintah yang bobrok dengan banyaknya koruptor yang bersarang. Semua kritik tersebut disampaikan tokoh utama melalui monolog dan dialog dengan tokoh lain.

Keestetikan yang terakhir dilihat dari segi bahasa. Pada naskah ini, Putu Wijaya mengungkapkan kritik dan pendapatnya dibalut dengan unsur sastra yaitu keindahan yang ditunjukkan pada penggunaan bahasa. Pemilihan kata yang sederhana dan tidak rumit dapat memudahkan pembaca memahami maksud yang disampaikan. Tidak ada penggunaan majas sehingga lebih memudahkan pembaca dalam memahami teks. Terdapat kalimat-kalimat sindiran yang menjadi daya tarik untuk pembaca.

Dengan mengkaji suatu karya menggunakan teori estetik, kita dapat mengetahui keindahan yang terkandung dari suatu karya. Selain itu, kita juga dapat mengerti maksud dari karya sastra tersebut tercipta. Melalui keindahan suatu karya sastra, pendapat dan kritik dapat tersampaikan dengan baik dan bisa diterima oleh banyak orang. Naskah drama Zetan  karya Putu Wijaya ini berperan sebagai media untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Penyampaian kritik dibungkus dengan unsur keindahan dalam karya sastra sehingga dapat diterima oleh banyak masyarakat.

Kentalnya Kritik Sosial Politik Pada Masa Kolonial Belanda Dalam Novel Bumi Manusia

Kritik Sosial Politik Pada Masa Kolonial Belanda Dalam Novel Bumi Manusia

Novel "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu karya sastra Indonesia yang dianggap sebagai klasik dan memiliki pengaruh yang mendalam dalam dunia sastra Indonesia. Namun, seperti halnya karya sastra lainnya, "Bumi Manusia" juga dapat dilihat dari perspektif kritik sastra. Dalam konteks ini, kita dapat mengidentifikasi beberapa aspek yang menarik untuk dikritisi.

Salah satu aspek yang dapat diperhatikan adalah struktur naratif novel ini. "Bumi Manusia" menggunakan gaya penceritaan kronologis yang terstruktur dengan baik. Namun, beberapa kritikus mungkin berpendapat bahwa struktur naratif yang konvensional ini terkadang terasa terlalu linear dan kurang eksperimental. Beberapa pembaca mungkin mengharapkan lebih banyak eksplorasi dalam penggunaan teknik naratif untuk memberikan nuansa yang lebih mendalam pada cerita.

Selain itu, tema yang diangkat dalam "Bumi Manusia" juga dapat menjadi objek kritik. Novel ini menggambarkan kompleksitas hubungan antara kelas sosial, perjuangan individu, dan ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat kolonial Hindia Belanda. Namun, beberapa kritikus mungkin berpendapat bahwa penanganan tema-tema ini tidak cukup mendalam. Mereka mungkin menginginkan eksplorasi yang lebih dalam terkait dengan karakterisasi, konflik sosial, atau konsekuensi emosional dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam novel.

Selain itu, penokohan dalam "Bumi Manusia" juga menjadi titik fokus kritik. Beberapa pembaca mungkin berpendapat bahwa karakter-karakter dalam novel ini terasa datar atau kurang kompleks. Terlebih lagi, peran perempuan dalam cerita ini mungkin juga menjadi perhatian. Beberapa kritikus mengkritik penggambaran karakter perempuan yang terkadang terasa stereotipikal atau terpinggirkan dalam narasi. Pemahaman yang lebih mendalam tentang pengalaman dan perspektif karakter perempuan mungkin dapat meningkatkan kekayaan naratif novel ini.

Namun, meskipun ada potensi kritik yang dapat diberikan, "Bumi Manusia" tetap dianggap sebagai salah satu karya sastra yang penting dalam kanon sastra Indonesia. Novel ini berhasil menggambarkan situasi sosial dan politik pada masa itu, serta menyuarakan kritik terhadap sistem kolonial Hindia Belanda. Selain itu, novel ini juga memiliki pesan universal tentang cinta, kebebasan, dan perjuangan individu yang dapat diterapkan pada berbagai konteks.

Kritik sastra terhadap "Bumi Manusia" bukanlah untuk mengurangi nilai karya ini, tetapi untuk memperluas pemahaman dan membuka dialog tentang berbagai aspek yang ada di dalamnya. Dalam kritik sastra, kita dapat melihat karya-karya dengan sudut pandang yang beragam untuk memperkaya pemahaman dan apresiasi kita terhadap sastra itu sendiri.

Simbol-Simbol yang Terdapat Dalam Cerpen Coret-Coret di Toilet Karya Eka Kurniawan

 

Cerpen ini bercerita tentang toilet kampus yang penuh dengan coretan di dindingnya. Coretan tersebut tidak hanya sembarang tulisan biasa, tetapi berisi tentang aspirasi-aspirasi yang tidak pernah tersampaikan.

Coret-Coret di Toilet merupakan salah satu cerpen dari 12 yang ada dalam buku kumpulan cerita karya Eka Kurniawan. Cerpen ini merupakan gambaran sederhana realita kehidupan. Coret-coret yang terdapat di toilet umum merupakan suatu hal yang  biasa terjadi. Tetapi terdapat makna tersendiri di balik coret-coret tersebut.

Sinopsis Cerpen Coret-Coret di Toilet

Cerpen ini bercerita tentang toilet kampus yang penuh dengan coretan di dindingnya. Coretan tersebut tidak hanya sembarang tulisan biasa, tetapi berisi tentang aspirasi-aspirasi yang tidak pernah tersampaikan. Di mulai dengan satu orang anak punk  yang sangat  tertarik dengan dinding toilet yang bersih. Ia memulai menuliskan sebuah tulisan. Kemudian melalui satu tulisan tersebut muncullah berbagai komentar-komentar yang beragam. Hingga membuat dinding toilet kampus tersebut penuh. Para pengunjung toilet memiliki dua tujuan pergi ke toilet, yaitu membuang hajat  dan mencoret-coret dinding. Hingga suatu hari, datanglah orang lain yang sangat prihatin melihat rusaknya dinding toilet. Dan dewan kampus pun membersihkan dinding toilet yang telah penuh dengan coretan. Tetapi sama saja, karena hari berikutnya pun tulisan sudah mulai bermunculan.

Unsur-Unsur Ekstrinsik dan Intrinsik Cerpen Coret-Coret di Toilet

Tema yang terkandung dalam cerpen adalah terpasungnya aspirasi pengguna toilet. Cerpen tersebut menggunakan alur maju dengan disebutkannya kalimat “ Dan gadis itu kemudian muncul”, “dua hari berlalu tanpa ada kejadian yang menghebohkan di toilet”,” kemudian di siang bolong”, “seminggu kemudian berlalu”. Cerpen ini memiliki banyak  tokoh yang diceritakan karena toilet tersebut adalah toilet umum. Tokoh-tokoh tersebut seperti; anak punk, gadis tomboy, mahasiswa yang memiliki masalah dengan salurannya, seorang hedonis yang suka danda, laki-laki bertubuh besar dan tinggi, anak sinting, dan anak alim. Latar tempat pada cerpen adalah toilet umum di kampus. Kemudian latar waktu yaitu pagi dan siang hari, dimana kegiatan kampus selalu berjalan di waktu tersebut. 

Amanat yang dapat disimpulkan dari cerpen tersebut adalah kita harus menjaga fasilitas umum dengan sebaik-baiknya, yang diutamakan pada cerpen ini adalah toilet. Walaupun kita ingin menyampaikan aspirasi kita. Sudah banyak tempat yang disediakan sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi dan pendapat. Maka manfaatkanlah itu sebaik-baiknya. Selain itu, kita juga memiliki kewajiban lainnya dalam menjaga kebersihan toilet umum yaitu jangan membuang sampah sembarang.

Pengambilan toilet kampus bukan toilet di tempat umum lainnya, karena sering digunakan oleh para mahasiswa. Selain digunakan untuk membuang hajat, terdapat fungsi lain dari toilet yaitu menyampaikan aspirasi  dan isi kata hati  melalui tulisan. Berawal dari toilet yang bersih, hingga kemudian seorang pengunjung memiliki banyak ide dan menyalurkan idenya tersebut melalui goresan-goresan di toilet. Dari satu ide yang tergoreskan,  kemudian munculnya berbagai goresan ide lain dan juga komentar-komentar yang beragam. Goresan tersebut dibuat dari berbagai macam jenis mulai dari spidol, lipstick, pena, punting rokok, dan berbagai macam bahan yang bisa digunakan untuk menulis. Mereka merasa terdapat kekurangan jika tidak menuliskan seuatu di tembok.

Simbol-Simbol Dalam Cerpen Coret-Coret Di Toilet

Cerpen ini memiliki delapan simbol yang disampaikan melalui diksi-diksi yang tersirat. Pertama adalah latar toilet yang berada di kampus. Jika dikaitkan dengan tema cerpen ini yaitu terpasungnya aspirasi rakyat, pemilihan latar berupa toilet kampus dirasa sangat cocok. Kampus adalah tempat berkumpulnya kaum intelektual mahasiswa yang sudah mempunyai visi dan misi dalam kehidupan. Berbeda dengan toilet-toilet di tempat umum lain, yang sebagian besar pengunjungannya dari berbagai latar belakang. Kemudian, simbol dari coret-coret tersebut adalah aspirasi yang tidak bisa tersampaikan dengan baik. Sehingga aspirasi tersebut hanya dapat terpasung di balik dinding toilet.

Pernyataan mahasiswa yang penuh dengan semangat akan sebuah perjuangan reformasi. Meskipun kala itu ordeba sudah turun, akan tetapi reformasi yang diharapkan belum berjalan dengan semestinya. Diksi-diksi mereka penuh dengan gagasan yang menentang reformasi. Mereka menyampaikan rasa ketidakpercayaan atas proses perubahan yang sedang berjalan. Hal tersebut terjadi akibat masih banyaknya kroni-kroni ordeba yang masih berkuasa di perpolitikan dalam negerinya.  

Hingga beberapa hari kemudian, muncullah seorang mahasiswa yang sering disebut sebagai mahasiswa alim. Alasan disebut mahasiswa alim karena dia adalah mahasiswa yang sangat taat akan peraturan. Ia merasa sedih  dengan penuhnya coretan yang ada di dinding toilet kampus. Kesedihan atau keresahan mahasiswa alim tersebut memiliki simbol bahwa suatu perjuangan tidak harus dengan merusak yang bersifat anarkis.

Cerpen ini diciptakan oleh pengarang pada tahun 1999. Dimana keadaan sosial politik masyarakat Indonesia belum cukuplah stabil dan masih banyak membutuhkan perbaikan. Masih perlu banyak pengawasan agar semua cita-cita yang diharapkan oleh bangsa ini bisa tercapai. Pada masa itu media media menyampaikan aspirasi belumlah banyak seperti sekarang ini. Sehingga dinding toilet dijadikan sebagai media untuk menyampaikan aspirasi. Mereka bisa bebas menuliskan pendapat apa saja yang mereka ingin kemukakan. Dinding toilet dianggap tempat yang paling mudah bagi mereka. Karena percuma saja untuk menyampaikan langsung kepada para anggota dewan yang tidak pernah mendengar aspirasi tersebut.

 

Indonesia Yang Menyedihkan Karena Cengkraman Penjajah dan Kesialan Setelah Kemerdekaan Dalam Novel "Gadis Kretek"


Novel Gadis Kretek ini menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat Indonesia pada saat dijajah oleh Belanda dan Jepang
Sinsopsis Novel Gadis Kretek

Novel Gadis Kretek bercerita tentang seorang tokoh yang bernama Idroes Moeria yang jatuh hati kepada gadis bernama Roemaisa. Ia adalah anak perempuan satu-satunya  dari seorang juru tulis di zaman Belanda. Keluarganya cukup terpandang secara intelektual dan finansial. Bapak Roemaisa mempunyai kriteria-kriteria yang cukup tinggi bagi calon pendamping putrinya. Sedangkan Idreos Moeria hanyalah pemuda biasa yang hanya bekerja sebagai buruh di pabrik klobot. Idroes Moeria adalah pria yang memiliki semangat yang tinggi untuk mendapatkan Roemaisa.

Pada saat kekuasaan  Jepang  di Indonesia, para pemilik industri  klobot mengalami kerugian yang sangat besar. Karena tembakau miliki mereka diambil oleh Jepang secara paksa. Alasannya digunakan sebagai modal perang. Para pemiliki industri tembakau  pun banyak yang mengalami kerugian, dan salah satunya adalah Pak Trisno. Ia mengumumkan bahwa dirinya telah gulung tikar dan tidak bisa membayar upah para buruh. Karena semua klobot yang sudah jadi diangkut oleh Jepang. Tidak hanya klobot, uang pun turut diambil oleh Jepang. Pak Trisno hanya memiliki sisa dua keranjang tembakau. Dirinya berniat untuk menjualnya dengan harga murah. Uang yang didapat  akan digunakan untuk membayar upah para buruh.

Setelah mendengar kabar tersebut, Idroes Moeria kembali ke rumah dan mengambil beberapa uang tabungannya untuk membeli dua keranjang tembakau Pak Trisno. Idroes bertekad ingin mengubah nasibnya dengan mencoba untuk membuat usaha klobot meskipun masih sederhana. Selain memberikan uang , ia juga meminta Pak Trisno mengajarinya baca dan tulis. Hal itu bertujuan agar dirinya dapat direstui oleh orang tua  Roemaisa dan bisa  menikahinya.

Sudah satu bulan Idreoes Moeria belajar membaca dan menulis dengan bantuan Pak Trisno. Kemampuan membaca dan menulis  jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kemudian usaha klobotnya pun perlahan sudah laris di pasaran, meskipun masih tergolong sederhana. Hingga pada suatu hari, Idreos  memberanikan diri pergi ke rumah Roemaisa untuk meminangnya . Karena Idreos merasa sudah memenuhi  syarat yang diberikan oleh Juru Tulis  kepada laki-laki yang akan meminang putrinya. Pinangan Idreos Moeria akhirnya diterima oleh Roemaisa dan keluarga dan tidak lama kemudian mereka menikah. Setelah menikah  usaha klobot Idroes Moeria terus maju dan berkembang.

Unsur- Unsur Pembangun Cerita Novel Gadis Kretek

Pada novel Gadis Kretek menggunakan alur campuran, tetapi alur mundur menjadi  yang paling dominan. Alur mundur pada novel   menggunakan latar pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, hingga pada masa Kemerdekaan Indonesia dan Pemberontakan PKI tahun 1965.  Cerita pada novel Gadis Kretek dimulai ketika masa kependudukan Belanda sudah akan berakhir dan akan mulai kependudukan Jepang di Indonesia. Keadaan sosial pada masa Belanda jauh dari kata baik. Hal tersebut ditampilkan dengan keadaan tokoh bernama Idroes Moeria, seperti ketika dia sudah remaja tetapi belum bisa membaca dan menulis. Kemudian sebagian besar masyarakat hanya bekerja sebagai buruh-buruh pabrik. Hal tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di zaman penjajahan Belanda tidak benar-benar baik.

Tidak lama kemudian datang Jepang. Masyarakat  Indonesia mengharapkan kehidupan yang lebih baik dengan kedatangan Jepang. Karena terdapat beberapa ramalan bahwa Indonesia akan dimerdekakan oleh saudaranya dari  kaum berkulit kuning. Tetapi pada kenyataannya, kehidupan masyarakat  di masa Jepang berkuasa semakin terpuruk. Tokoh Idreos Moeria mengungkapkan bahwa indutsri klobot banyak yang mengalami kebangkrutan sehingga  banyak buruh yang kehilangan pekerjaanya. Penyebabnya adalah klobot-klobot yang siap untuk diperjual belikan di pasar  diambil secara paksa oleh Jepang. Alhasil mereka sama sekali tidak ada pemasukan. Untuk membayar buruh pun tidak bisa apalagi mempertahankan pabrik. Selain itu, beberapa tenaga pengajar atau guru yang bekerja di Sekolah Rakyat dipaksa untuk bekerja dengan Jepang. Sehingga beberapa sekolah tutup karena tidak ada guru yang mengajar. Semua yang dilakukan oleh bangsa kepada masyarakat Indonesia bersifat pemaksaan dan membuat rakyat semakin menderita.

Novel Gadis Kretek ini menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat Indonesia pada saat dijajah oleh Belanda dan Jepang
Novel Gadis Kretek ini menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat Indonesia pada saat dijajah oleh Belanda dan Jepang. Keadaan yang selalu mencekam dan tegang selalu ada setiap harinya. Para rakyat dipaksa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mereka perintahkan. Para penjajah tidak pernah memberikan upah yang layak bagi rakyat yang telah bekerja keras memenuhi perintah mereka. Hak-hak rakyat mereka rampas dengan seenaknya tanpa  adanya  peri kemanusiaan. Hal itu mereka lakukan hanya untuk memenuhi kepentingan dan keuntungan  mereka saja. Sedangkan rakyat tidak akan pernah mendapatkan apa-apa.    

Setelah tiga setengah tahun Jepang menduduki Indonesia dan membuat huru hara di beberapa daerah, akhirnya mereka pun pergi. Mereka pergi setelah mengalami kekalahan dari Amerika  dengan ditandai  adanya pengeboman  dua kota besar di Jepang. Semua rakyat merasa senang dengan mendengar berita tersebut  melalui radio. Akhirnya penderitaan yang mereka rasakan selama ini perlahan berkurang. Harapan akan kebebasan akhirnya bisa terwujud. Tidak lama dari peristiwa pengeboman tersebut, Indonesia akhirnya di proklamasikan. Pembicaraan tentang kalahnya Jepang dan proklamasi kemerdekaan terus menjadi pembicaraan masyarakat saat. Tidak hanya itu, pembicaraan tentang orang-orang yang menjadi tahanan Jepang pun juga menjadi salah satu topik utama. Beberapa anggota keluarga harap-harap cemas apakah keluarganya kembali atau sudah mati di penjara. Tokoh  Idroes Moeria adalah salah satu orang yang ditahan oleh Jepang dan selamat sehingga dapat kembali ke rumah.

Setelah 20 tahun sejak Indonesia di proklamasikan, terdapat peristiwa yang sangat besar di Indonesia di Indonesia. Peristiwa tersebut adalah pemberontakan PKI tahun 1965. Akibatnya orang-orang yang terlibat oleh PKI ditangkap dan diintrogasi. Peristiwa tersebut digambarkan sangat jelas pada novel Gadis Kretek. Karena tokoh utama Idreos Moeria pun sangat terdampak. Hal itu bisa terjadi karena ulah calon manantunya yang menerima modal dari PKI. Modal tersebut digunakannya untuk keperluan usaha kretek calon menantunya yaitu Soeraja. Calon menatunya menjadi salah satu buronan para aparat karena terlibat dengan PKI. Tidak hanya calon menantunya tetapi Idreos Moeria dan anaknya Jeng Yah  pun ikut ditangkap dan diintrogasi oleh aparat. Karena mereka memiliki hubungan dengan Soeraja. Meskipun kemudian mereka dibebasakan, tetapi mereka juga terkena dampak buruk akibat peristiwa tersebut. Tidak hanya karena faktor psikologi tetapi juga karena salah satu produk kreteknya dilarang untuk dipasarkan dan diproduksi lagi. Alasannya karena bungkusnya yang berwarna merah yang sangat identik dengan PKI. Mereka mengalami kerugian ekonomi yang sangat besar. Keluarga Idroes Moeria sangat sakit hati dan terpukul karena usaha yang telah dibangun sejak lama harus mengalami kebangkrutan akibat peristiwa tersebut.

Suasana Indonesia setelah pemberontakan PKI itu terjadi sangat menegangkan. Semua orang yang terlibat dengan PKI ditangkap. Para aparat tentara memeriksa rumah satu persatu mencari para buronan yang telah mereka incar. Mereka melakukan pendobrakan rumah secara paksa dan menyakiti fisik siapa saja yang terlibat dengan para buronan. Tidak hanya ditangkap mereka yang tertangkap juga ada yang dibunuh dan kemudian dibuang di sungai. Karena peristiwa tersebut banyak masyarakat yang merasa ketakutan. Keadaan tersebut digambarkan secara jelas melalui sudut pandang seorang yang bernama Soeraja atau calon meantu Idreos Moeria  yang termasuk salah satu buronan tentara.

Para tokoh yang terdapat pada novel Gadis Kretek  ini termasuk kelompok masyarakat biasa. Sebagain besar dari mereka adalah kaum yang terdampak akibat  dari peristiwa yang terjadi. Mereka perlu  berjuang untuk dapat hidup dengan layak di masa-masa saat itu. Mereka menunjukkan bagaimana perjuangan hidup pada masa susah seperti pada  masa penjajahan Belanda dan Jepang. Novel Gadis Kretek  ini menggambarkan bagaimana keadaan Indonesia saat masih dikuasai penjajah. Masyarakat tidak pernah merasa aman dan selalu berada di bawah tekanan dan pemaksaan. Hak-hak kebebasan mereka dirampas oleh para penguasa. Sebagai masyarakat biasa mereka tidak bisa melakukan penolakan dan hanya bisa melaksanakannya.

Kelebihan dan Kekurangan Novel Gadis Kretek

Kelebihan pada novel ini adalah penyajian cerita yang beragam. Terdapat bermacam-macam pendapat dari para tokoh. Meskipun jalan cerita masih memiliki satu fokus dominan yaitu tentang kehidupan seorang bernama Jeng Yah. Bahasa yang mudah dipahami untuk pembaca menjadi nilai lebih dari novel ini. Karena meskipun terdapat unsur kritik terhadap kejadian masa lalu, tetapi hal itu  tidak begitu menonjol dan masih fokus pada inti cerita. Kemudian kekurangan novel Gadis Kretek ini adalah pada beberapa plot cerita terlalu acak dan kurangnya keterangan. Sehingga pembaca harus benar-benar teliti agar tidak mengalami kebingungan.

Representasi Kehidupan Sosial Para Tapol dan Keluarganya Pada Novel "Pulang"


Realitas yang menjadi latar belakang berjalannya cerita seperti situasi sosial masyarakat setelah tragedi September 1965, bergantinya pemerintah Orde Lama ke Orde Baru, kondisi sosial eksil politik Indonesia di dalam maupun di luar negeri.
Novel
 Pulang  karya Laila Chudori menceritakan perjalan seeorang  yang bernama Dimas Suryo  dan teman-temannya yang di anggap sebagai orang-orang yang membahayakan negara. Cerita dalam novel ini mengambil latar waktu tahun 1960 hingga 1998. Pada masa itu politik Indonesia sedang tidak stabil karena  adanya pemberontakan PKI pada tahun 1965. Setelah itu, terjadi perubahan sistem pemerintah yang otoriter. Orang-orang yang dianggap tidak sepaham dengan pemerintah   akan disingkirkan. Yang paling utama yaitu orang-orang  yang menganut  paham komunis dan simpatisan komunis   atau biasa disebut orang-orang kiri. Mereka akan ditangkap, kemudian diintrogasi. Dari integroasi tersebut  nantinya akan menentukan nasib seseorang tersebut, hanya disiksa atau dieksekusi mati.  Tidak hanya orang-orang yang dianggap komunis saja, tetapi anggota  keluarga pun juga pun juga ikut diintrogasi seperti istri, orang tua, adik, kakak, teman, dan  orang yang berhubungan dekat  dengan mereka.

Ulasan Singkat Novel Pulang

Dimas Suryo adalah seorang  senang sekali belajar dan memahami banyak hal. Ia bergaul dengan siapa saja dari berbagai golongan dan berbagai pemahaman. Dalam perjalanan politiknya pun dirinya tidak pernah seratus persen yakin pada satu aliran politik saja. Ia paham bagaimana konsep komunisme, sosialisme, kapitalisme tetapi dirinya memilih untuk tidak berlabuh pada   salah satu dari itu. Ia akan menunjukkan rasa kritisnya terhadap semua paham tadi. Itulah yang menjadi salah satu keputusan dalam hidupnya yaitu tidak berlabuh di sisi manapun. Meskipun begitu, hubungan dirinya dengan teman-temannya masih tetap berjalan dengan baik meskipun berbeda paham.


Realitas yang menjadi latar belakang berjalannya cerita seperti situasi sosial masyarakat setelah tragedi September 1965, bergantinya pemerintah Orde Lama ke Orde Baru, kondisi sosial eksil politik Indonesia di dalam maupun di luar negeri.
Berkelananya
 Dimas Suryo berawal dari penugasan dirinya untuk berangkat ke konfrensi junalis internasional di Santiago. Sebenarnya yang seharusnya berangkat bukanlah Dimas tetapi atasannya yang bernama Hananto. Akan tetapi, rumah tangga Hananto sedang mengalami masalah sehingga dirinya tidak bisa pergi. Alhasil, Hananto memerintahkan Dimas untuk pergi bersama  Nugroho. Kemudian ketika berlangsungnya acara konfrensi, tiba-tiba saja ketua panitia memberikan kabar bahwa  di Indonesia sedang terjadi peristiwa besar 30 September 1965 yaitu pemberontakan tokoh PKI dengan menculik dan membunuh tujuh jendral. Setelah tahu tentang peristiwa tersebut Dimas dan Nugroho sangat gelisah. Mereka menerima kabar bahwa Kantor Berita Nusantara yaitu tempat dirinya bekerja  digeledah oleh tentara karena dianggap sangat kiri. Bermalam-malam mereka tidak bisa makan  karena memikirkan bagaiman nasib  keluarga dan teman-teman mereka.

Setelah 12 hari, Dimas menerima pesan telegram dari adiknya yaitu Aji. Ia memberi kabar bahwa ibu dan dirinya baik-baik saja. Meskipun sempat diintrogasi dan rumahnya diobrak-abrik. Bersyukur mereka tidak menyiksa ibu ataupun dirinya dan keluarga. Kemudian Aji juga berpesan kepada Dimas untuk tidak kembali dulu ke Indonesia karena situasi sedang memanas. Hingga menjelang dua minggu setelah peristiwa besar tersebut, Nugroho belum mendapatkan kabar dari istri dan keluarganya. Akan tetapi Nugroho selalu  percaya bahwa istri dan anaknya akan baik-baik saja. Kemudian Nugroho dan Dimas memutuskan  untuk pergi ke Havana untuk bertemu Risjaf  yang mengikuti konfrensi Organisasi Setiakawan Rakyat Asia-Afrika. Dari hari ke hari kabar buruk  terus datang bergantian, seperti kabar  anggota partai komunis, keluarga partai komunis, atau mereka yang dianggap simpatisan komunis akan ditangkap dan dieksekusi.  Salah satu orang yang mereka cemaskan adalah  seorang Hananto dan juga keluarganya karena mereka tidak bisa dihubungi dan juga tidak memberi kabar. Hananto yang merupakan pimpinan redaksi Berita Nusantara dan juga sahabat mereka, dia adalah  seorang simpatisan komunis.Ia sangat berpegang teguh dengan paham komunisme. Maka dari itu Dimas dan kawan-kawan sangat mengkhawatirkan nasib dari Hananto dan juga anak dan istrinya karena pasti mereka juga menjadi target dari penangkapan oleh para tentara.

Selang beberapa hari, paspor Indonesia mereka dicabut. Mereka hidup tanpa kepastian dan tanpa identintas di negeri orang. Ketidak jelasan tentang hidup mulai dirasakan . Mereka tidak tahu nasib mereka ke depannya akan seperti apa. Rasa kegelisahan tersebut terus memuncak ketika mereka teringat dengan tanah air yaitu Indonesia. Karena berada pada keadaan yang tidak pasti, mereka memutuskan untuk pergi ke Peking karena disana terdapat banyak teman yang akan membantu  kehidupan ke depannya. Mereka menetap di Peking selama tiga tahun. Disana mereka melakukan kegiatan-kegiatan pengabdian yang berkaitan tentang absolutisme revolusi  kebudayaan. Hingga suatu hari Dimas sudah merasa sesak dan semakin gelisah dengan keadaan dan kegiatan-kegiatan yang kurang disukai olehnya. Belum lama Dimas mendapatkan kabar  bahwa salah satu teman yang bernama Tjai berhasil menyelamatkan diri ke Singapura.

Dimas sangat ingin keluar dari  wilayah itu, hingga pada akhirnya ia mengajak Ritjaf untuk pergi dari Peking menuju Paris  agar bisa bertemu dengan Tjai. Karena Tjai  dan keluarganya berencana untuk pindah antara ke Paris atau Amsterdam. Sehingga nantinya mereka berharap agar bisa bertemu dan dapat menetap di satu wilayah bersama-sama. Akhirnya Dimas, Nugroho, dan juga Ritjaf bisa keluar dari wilayah Peking meski dengan prosedur yang sangat sulit. Sementara mereka terpisah dengan menetap di wilayah yang berbeda. Hingga pada akhirnya mereka bertiga dan juga Tjai  dapat berkumpul kembali di Paris.

Kehidupan benar- benar dimulai kembali setelah semua berkumpul di Paris. Yang pertama mereka lakukan adalah mendapatkan kewarganegaraan. Proses mendapatkan kewarganegaraan pun cukup lama. Perlu melalui prosedur dan persyaratan yang sangat rumit. Untuk sementara mereka mendapatkan surat perjalanan. Mereka bisa berpergian kemana saja kecuali Indonesia. Selain itu,mereka juga memulai bekerja serabutan  untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apapun pekerjaannya mereka siap melakukannya.

Bertahun-tahun kehidupan sudah berjalan. Masing-masing sudah memiliki keluarga baru masing-masing. Kehidupan pun terus berjalan dengan baik tanpa ada gangguan apapun.  Mereka tetap berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia dengan surat. Selain melalui surat, mereka juga rajin memantau keadaan Indonesia melalui siaran berita. Tetapi mereka tetap masih terus merasa gelisah  karena sama sekali tidak bisa kembali ke Indonesia. Setiap tahun mereka mengajukan visa  ke KBRI untuk berkunjung ke Indonesia   tapi selalu ditolak tanpa ada alasan yang jelas.

Represenstasi Kehidupan Sosial Masa Ordeba Dalam  Novel Pulang 

Realitas yang menjadi latar belakang berjalannya cerita seperti situasi sosial masyarakat setelah tragedi September 1965, bergantinya pemerintah Orde Lama ke Orde Baru, kondisi sosial eksil politik Indonesia di dalam maupun di luar negeri. Banyak sekali kejadian  yang tidak pernah terungkap di balik peristiwa luar biasa di Indonesia. Pada novel Pulang ini, penulis berusaha mengungkap fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Karena hingga pada masa sekarang ini  banyak sekali orang-orang yang tidak mengetahuinya . Pemerintah berhasil mempengaruhi pemikiran  masyarakat yang tidak mengetahui apa-apa tentang berbagai kejadian ketidakadilan tersebut.

Berbagai persoalan  sosial yang ada di Indonesia pada zaman ordeba digambarkan dengan jelas dalam novel ini. Penulis mengungkapkan pemikirannya melalui sudut pandang dan juga tokoh-tokoh dalam novel. Tokoh – tokoh dalam novel  Pulang  merupakan gambaran orang-orang yang diasingkan dari Indonesia karena dianggap berbahaya dan juga terlibat pada peristiwa 30 September 1965. Selain mereka yang diasingkan, keluarga mereka pun juga terdampak . Tekanan dan berbagai siksaan sudah mereka rasakan. Rasa takut dan khawatir mengintai setiap harinya. Mereka mengalami trauma secara fisik dan juga psikis. Hak asasi manusia sudah mulai memudar dengan banyaknya orang yang hilang, disiksa, kemudian dieksekusi tanpa tahu  kesalahan apa yang mereka lakukan. Pada intinya setiap  individu  yang berhubungan dengan orang-orang yang dianggap  simpatisan komunis  pasti akan menjadi target penangkapan, meskipun hanya berteman baik pun pasti akan tertangkap dan  diintrogasi. 

Permasalahan tersebut terus berlanjut hingga bertahun-tahun. Selama kekuasaan  ordeba masih memimpin, mereka akan tetap dianggap sampah politik yang perlu dibuang jauh-jauh. Mereka mengalami deskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya deskriminasi sosial yang dimana mereka akan selalu dikucilkan oleh para tetangga, tapi juga deskriminasi di bidang ekonomi. Mereka tidak bisa bekerja dalam beberapa sektor terutama dalam pemerintahan. Karena terdapat program bersih lingkungan yaitu program pemerintah untuk menyaring pegawai agar tidak ada pegawainya yang berhubungan  dengan seorang tahanan politik ( tapol ).  Selain itu, pada KTP mantan tapol dan keluarganya akan diberi tanda yang bertuliskan ET yang artinya eks tapol.

Selain permasalahan eks tapol dan keluarganya, terdapat permasalan sosial lainnya seperti penjarahan etnis cina yang dilakukan oleh beberapa oknum. Harga kebutuhan  pokok melonjak tinggi sehingga banyak masyarakat sulit memenuhinya.  Demo dan kerusuhan ada dimana terutama daerah di ibu kota. Penyebab berbagai kerusuhan itu karena ketidakstabilan ekonomi yang diakibatkan dari ketidakstabilan politik. Banyak masyarakat yang sudah merasa resah karena kepemimpinan ordeba yang sudah sangat  lama. Sehingga menurut mereka presiden perlu turun dari kekuasaannya. Jika tidak, keadaan akan semakin buruk.

Proses Kreatif Pengarang Dilihat dari Cerita Novel Pulang

Melalui novel ini, pengarang mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap deskriminasi yang terjadi pada masa ordeba. Beliau memiliki pandapat bahwa ia tidak menyetujui paham komunisme tatepai juga setuju dengan deskriminasi yang dilakukan oleh ordeba. Pandangannya tersebut sudah tertuang dalam percakapan dan pemikiran para tokoh yang terdapat pada novel Pulang. Sebelum menulis novel ini, pengarang melakukan riset terlebih dahulu. Salah satunya dengan mewawancarai beberapa eks tapol yang terdampar di luar negeri dan tidak bisa kembali lagi. Hal tersebut bertujuan agar apa yang beliau tulis tidak menyimpang dengan kebenaran.  

Kelebihan dan Kekurangan Novel Pulang

Novel ini cukup menarik  dengan penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Pengangkatan topik yang cukup berani  dan cukup sensitif  untuk sebagian orang, sehingga menambah nilai plus untuk novel ini.  Penjelasan dari setiap cerita yang cukup lengkap  sehingga sebab dan akibat dalam cerita terpecahkan dengan tuntas. Akan tetapi, tidak semua umur dapat membacanya karena terdapat beberapa plot cerita yang mengandung unsur dewasa. Pembaca yang cocok untuk membaca buku ini yaitu umur 17 tahun keatas.

Kekurangan dari novel ini, terdapat sudut pandang yang membingungkan pada beberapa plot. Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, akan tetapi terdapat pergantian plot terkadang tidak ditunjukkan sudut pandang dari siapa. Misal pada plot pertama yaitu tokoh aku yang bercerita yaitu Hananto, tapi pada plot kedua tokoh aku  tiba-tiba menjadi  Dimas yang bercerita. Sehingga jika pembaca kurang cermat pasti akan kebingungan.

 

Awal Mula Menulis Sastra dan Manfaat Menulis Sastra dalam Penyampaian Pesan Kehidupan

 

Menulis suatu kegiatan menyampaikan pesan dengan media tulisan.Dalam menulis terdapat empat unsur yang penting yaitu penulis,isi yang ditulis,tulisan sebagai media,dan pembaca sebagai penikmat.Untuk mendapatkan tulisan yang baik,tidak cukup satu kali menulis tetapi harus berulang kali mencoba agar tulisan yang diciptakan memuaskan untuk para pembaca.Butuh pelatihan secara bertahap dan telaten agar bisa mencapai tulisan yang memuaskan untuk pembaca.Tujuan dari menulis sendiri adalah menyampaikan pesan,gagasan,pendapat,pengetahuan,dan pengalaman.Salah satu bentuk dari menulis adalah menulis sastra.

Sastra adalah suatu seni atau karya yang tercipta melalui tulisan.Seni sastra merupakan hasil cipta manusia yang mengkreasikan antara pesan,gagasan,pendapat,pengetahuan,dan pengalaman kehidupan manusia dengan bahasa imajinasi dan emosional yang kental.Dalam karya sastra tersebut penulis menyampaikan pesan dengan sangat menyentuh.Hal tersebut bertujuan agar para pembaca ikut merasakan suasana yang dibangun oleh penulis.Kemudian pesan yang terkandung dalam karya sastra bisa diambil oleh para pembaca dengan mudah.Tokoh ,kejadian,suasana,ruang dan waktu kejadian adalah suatu dunia yang diciptakan oleh penulis.Pengguaan bahasa yang kreatif dan mudah dipahami akan menjadi nilai tambah bagi suatu karya tulis karena akan sangat digemari oleh para pembaca.

Beberapa cara atau tips bagi penulis yang baru pemula yaitu rajin membaca.Dalam hal membaca ini bertujuan agar mendapatkan banyak informasi.Kemudian informasi tersebut dapat digunakan sebagai sumber suatu tulisan.Karena penulis sastra tidak hanya menciptakan melalui imajinasi saja,tetapi memerlukan sumber untuk bahan acuan.Sumber acuan yang telah didapat baru dikreasikan sesuai imajinasi.Selain menjadi sumber acuan,membaca juga dapat menambah kosa kata.Karena setiap buku memiliki gaya bahasa yang berbeda sesuai sudut pandang yang diangkat dalam cerita.Apapun yang akan ditulis nantinya fiksi atau non fiksi membaca adalah hal yang paling utama bagi penulis.Menulis dan membaca adalah suatu perbandingan yang lurus jadi tidak bisa terpisahkan antara keduanya.Apabila keduanya dilakukan dengan konsisten,akan menjadikan sesuatu yang apik.Hal yang paling pokok dari seorang penulis sastra atau penulis yang lain adalah konsisten.

Pencarian ide merupakan hal yag sulit bagi penulis sastra pemula.Sebenarnya dengan memperhatikan hal-hal yanga ada disekitar kita,itu bisa menjadi sumber inspirasi untuk menulis.Ada salah satu kiat yang dikemukakan oleh Agus  Noor yaitu dengan mencari kata benda,kemudian dihubungkan dengan kata lainnya  yang tidak memiliki persamaan makna.Kedua kata tersebut dipadupadankan kemudia akan menjadi rangkain cerita yang menarik.Melakukan hal-hal yang menarik untuk dirimu dan menjadi hobimu,itu juga bisa sumber inspirasi bagi penulis. Bergaul dengan banyak orang untuk menambah topik  yang akan dibahas.

Membangun suasana dalam menulis sastra suatu hal yang penting.Suasana dalam cerita sastra dapat membangun  minat pembaca.Penulis harus tahu bagaimana suasana yang akan diangkat supaya rasa dalam isi cerita sastra dapat ditangkap dan diterima dengan baik oleh pembaca.Fakta yang biasa terjadi dalam cerita adalah pada bagian awal cerita  suasana belum terbangun dan masih membosankan atau ceritanya yang monoton dan mudah tetebak.Hal tersebut terkadang membuat pembaca tidak bisa melanjutkan membacanya.Akan tetapi,pada dasarnya suasana akan dibangun sebagaimana pun tergantung dengan suasana pembaca.Untuk suasana pada akhirnya akan kembali ke pembaca.Penulis hanya mengungkapkan imajinasi yang ada dipikiran.

Minat membaca turun karena ketidak tertarikan masyarakat pada buku.Buku dianggap hanyalah tulisan yang berisi hal-hal yang membosankan.Bahasa yang digunakan juga terlalu formal dan sulit dicerna pembaca sehingga mereka malas untuk membacanya.Isi yang dibahas adalah hal yang terlalu resmi maka banyak yang tidak menguasai tentang hal tersebut.Hanya menyampaikan dengan satu sudut pandang saja,tanpa ada pengkreasian cerita.

Dalam fenomena tersebut,pentingnya kita menulis cerita sastra.Menyampaikan pesan- pesan kehidupan dengan cerita.Pembangunan suasana agar tidak membosankan pembaca.Adanya tokoh-tokoh yang  menggambarkan kehidupan guna untuk menyampaikan pesan yang terkandung dalam cerita sastra tersebut.Dari hal tersebut akan menghilangkan rasa bosan pembaca.Tidak hanya ada satu tokoh tetapi beberapa tokoh,sehingga pembaca bisa membandingkan mana yang baik dan mana yang buruk.Mana yang boleh dilakukan mana yang tidak.

Menceritakan sejarah dengan bahasa sastra atau dengan penyampaian berupa cerita sastra akan banyak manfaatnya.Tidak hanya membicarakan tentang pokoknya saja.Dalam cerita sastra,sejarah dikemas atau diceritakan dengan menggunakan sudut pandang beberapa tokoh yang melakoni ,kemudian bahasa yang digunakan dengan bahasa kreatif dan bisa menggambarkan suasana pada zaman tersebut.Sehingga pesan yang ada dibalik cerita sejarah dapat tersampaikan.

Dari fenomena diatas,artinya penting sekali menulis satra.Sebagai penyampaian pesan yang ada di dalam kehidupan.Karena penerimaan akan pesan berbeda-beda.