Representasi Kehidupan Sosial Para Tapol dan Keluarganya Pada Novel "Pulang"


Realitas yang menjadi latar belakang berjalannya cerita seperti situasi sosial masyarakat setelah tragedi September 1965, bergantinya pemerintah Orde Lama ke Orde Baru, kondisi sosial eksil politik Indonesia di dalam maupun di luar negeri.
Novel
 Pulang  karya Laila Chudori menceritakan perjalan seeorang  yang bernama Dimas Suryo  dan teman-temannya yang di anggap sebagai orang-orang yang membahayakan negara. Cerita dalam novel ini mengambil latar waktu tahun 1960 hingga 1998. Pada masa itu politik Indonesia sedang tidak stabil karena  adanya pemberontakan PKI pada tahun 1965. Setelah itu, terjadi perubahan sistem pemerintah yang otoriter. Orang-orang yang dianggap tidak sepaham dengan pemerintah   akan disingkirkan. Yang paling utama yaitu orang-orang  yang menganut  paham komunis dan simpatisan komunis   atau biasa disebut orang-orang kiri. Mereka akan ditangkap, kemudian diintrogasi. Dari integroasi tersebut  nantinya akan menentukan nasib seseorang tersebut, hanya disiksa atau dieksekusi mati.  Tidak hanya orang-orang yang dianggap komunis saja, tetapi anggota  keluarga pun juga pun juga ikut diintrogasi seperti istri, orang tua, adik, kakak, teman, dan  orang yang berhubungan dekat  dengan mereka.

Ulasan Singkat Novel Pulang

Dimas Suryo adalah seorang  senang sekali belajar dan memahami banyak hal. Ia bergaul dengan siapa saja dari berbagai golongan dan berbagai pemahaman. Dalam perjalanan politiknya pun dirinya tidak pernah seratus persen yakin pada satu aliran politik saja. Ia paham bagaimana konsep komunisme, sosialisme, kapitalisme tetapi dirinya memilih untuk tidak berlabuh pada   salah satu dari itu. Ia akan menunjukkan rasa kritisnya terhadap semua paham tadi. Itulah yang menjadi salah satu keputusan dalam hidupnya yaitu tidak berlabuh di sisi manapun. Meskipun begitu, hubungan dirinya dengan teman-temannya masih tetap berjalan dengan baik meskipun berbeda paham.


Realitas yang menjadi latar belakang berjalannya cerita seperti situasi sosial masyarakat setelah tragedi September 1965, bergantinya pemerintah Orde Lama ke Orde Baru, kondisi sosial eksil politik Indonesia di dalam maupun di luar negeri.
Berkelananya
 Dimas Suryo berawal dari penugasan dirinya untuk berangkat ke konfrensi junalis internasional di Santiago. Sebenarnya yang seharusnya berangkat bukanlah Dimas tetapi atasannya yang bernama Hananto. Akan tetapi, rumah tangga Hananto sedang mengalami masalah sehingga dirinya tidak bisa pergi. Alhasil, Hananto memerintahkan Dimas untuk pergi bersama  Nugroho. Kemudian ketika berlangsungnya acara konfrensi, tiba-tiba saja ketua panitia memberikan kabar bahwa  di Indonesia sedang terjadi peristiwa besar 30 September 1965 yaitu pemberontakan tokoh PKI dengan menculik dan membunuh tujuh jendral. Setelah tahu tentang peristiwa tersebut Dimas dan Nugroho sangat gelisah. Mereka menerima kabar bahwa Kantor Berita Nusantara yaitu tempat dirinya bekerja  digeledah oleh tentara karena dianggap sangat kiri. Bermalam-malam mereka tidak bisa makan  karena memikirkan bagaiman nasib  keluarga dan teman-teman mereka.

Setelah 12 hari, Dimas menerima pesan telegram dari adiknya yaitu Aji. Ia memberi kabar bahwa ibu dan dirinya baik-baik saja. Meskipun sempat diintrogasi dan rumahnya diobrak-abrik. Bersyukur mereka tidak menyiksa ibu ataupun dirinya dan keluarga. Kemudian Aji juga berpesan kepada Dimas untuk tidak kembali dulu ke Indonesia karena situasi sedang memanas. Hingga menjelang dua minggu setelah peristiwa besar tersebut, Nugroho belum mendapatkan kabar dari istri dan keluarganya. Akan tetapi Nugroho selalu  percaya bahwa istri dan anaknya akan baik-baik saja. Kemudian Nugroho dan Dimas memutuskan  untuk pergi ke Havana untuk bertemu Risjaf  yang mengikuti konfrensi Organisasi Setiakawan Rakyat Asia-Afrika. Dari hari ke hari kabar buruk  terus datang bergantian, seperti kabar  anggota partai komunis, keluarga partai komunis, atau mereka yang dianggap simpatisan komunis akan ditangkap dan dieksekusi.  Salah satu orang yang mereka cemaskan adalah  seorang Hananto dan juga keluarganya karena mereka tidak bisa dihubungi dan juga tidak memberi kabar. Hananto yang merupakan pimpinan redaksi Berita Nusantara dan juga sahabat mereka, dia adalah  seorang simpatisan komunis.Ia sangat berpegang teguh dengan paham komunisme. Maka dari itu Dimas dan kawan-kawan sangat mengkhawatirkan nasib dari Hananto dan juga anak dan istrinya karena pasti mereka juga menjadi target dari penangkapan oleh para tentara.

Selang beberapa hari, paspor Indonesia mereka dicabut. Mereka hidup tanpa kepastian dan tanpa identintas di negeri orang. Ketidak jelasan tentang hidup mulai dirasakan . Mereka tidak tahu nasib mereka ke depannya akan seperti apa. Rasa kegelisahan tersebut terus memuncak ketika mereka teringat dengan tanah air yaitu Indonesia. Karena berada pada keadaan yang tidak pasti, mereka memutuskan untuk pergi ke Peking karena disana terdapat banyak teman yang akan membantu  kehidupan ke depannya. Mereka menetap di Peking selama tiga tahun. Disana mereka melakukan kegiatan-kegiatan pengabdian yang berkaitan tentang absolutisme revolusi  kebudayaan. Hingga suatu hari Dimas sudah merasa sesak dan semakin gelisah dengan keadaan dan kegiatan-kegiatan yang kurang disukai olehnya. Belum lama Dimas mendapatkan kabar  bahwa salah satu teman yang bernama Tjai berhasil menyelamatkan diri ke Singapura.

Dimas sangat ingin keluar dari  wilayah itu, hingga pada akhirnya ia mengajak Ritjaf untuk pergi dari Peking menuju Paris  agar bisa bertemu dengan Tjai. Karena Tjai  dan keluarganya berencana untuk pindah antara ke Paris atau Amsterdam. Sehingga nantinya mereka berharap agar bisa bertemu dan dapat menetap di satu wilayah bersama-sama. Akhirnya Dimas, Nugroho, dan juga Ritjaf bisa keluar dari wilayah Peking meski dengan prosedur yang sangat sulit. Sementara mereka terpisah dengan menetap di wilayah yang berbeda. Hingga pada akhirnya mereka bertiga dan juga Tjai  dapat berkumpul kembali di Paris.

Kehidupan benar- benar dimulai kembali setelah semua berkumpul di Paris. Yang pertama mereka lakukan adalah mendapatkan kewarganegaraan. Proses mendapatkan kewarganegaraan pun cukup lama. Perlu melalui prosedur dan persyaratan yang sangat rumit. Untuk sementara mereka mendapatkan surat perjalanan. Mereka bisa berpergian kemana saja kecuali Indonesia. Selain itu,mereka juga memulai bekerja serabutan  untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apapun pekerjaannya mereka siap melakukannya.

Bertahun-tahun kehidupan sudah berjalan. Masing-masing sudah memiliki keluarga baru masing-masing. Kehidupan pun terus berjalan dengan baik tanpa ada gangguan apapun.  Mereka tetap berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia dengan surat. Selain melalui surat, mereka juga rajin memantau keadaan Indonesia melalui siaran berita. Tetapi mereka tetap masih terus merasa gelisah  karena sama sekali tidak bisa kembali ke Indonesia. Setiap tahun mereka mengajukan visa  ke KBRI untuk berkunjung ke Indonesia   tapi selalu ditolak tanpa ada alasan yang jelas.

Represenstasi Kehidupan Sosial Masa Ordeba Dalam  Novel Pulang 

Realitas yang menjadi latar belakang berjalannya cerita seperti situasi sosial masyarakat setelah tragedi September 1965, bergantinya pemerintah Orde Lama ke Orde Baru, kondisi sosial eksil politik Indonesia di dalam maupun di luar negeri. Banyak sekali kejadian  yang tidak pernah terungkap di balik peristiwa luar biasa di Indonesia. Pada novel Pulang ini, penulis berusaha mengungkap fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Karena hingga pada masa sekarang ini  banyak sekali orang-orang yang tidak mengetahuinya . Pemerintah berhasil mempengaruhi pemikiran  masyarakat yang tidak mengetahui apa-apa tentang berbagai kejadian ketidakadilan tersebut.

Berbagai persoalan  sosial yang ada di Indonesia pada zaman ordeba digambarkan dengan jelas dalam novel ini. Penulis mengungkapkan pemikirannya melalui sudut pandang dan juga tokoh-tokoh dalam novel. Tokoh – tokoh dalam novel  Pulang  merupakan gambaran orang-orang yang diasingkan dari Indonesia karena dianggap berbahaya dan juga terlibat pada peristiwa 30 September 1965. Selain mereka yang diasingkan, keluarga mereka pun juga terdampak . Tekanan dan berbagai siksaan sudah mereka rasakan. Rasa takut dan khawatir mengintai setiap harinya. Mereka mengalami trauma secara fisik dan juga psikis. Hak asasi manusia sudah mulai memudar dengan banyaknya orang yang hilang, disiksa, kemudian dieksekusi tanpa tahu  kesalahan apa yang mereka lakukan. Pada intinya setiap  individu  yang berhubungan dengan orang-orang yang dianggap  simpatisan komunis  pasti akan menjadi target penangkapan, meskipun hanya berteman baik pun pasti akan tertangkap dan  diintrogasi. 

Permasalahan tersebut terus berlanjut hingga bertahun-tahun. Selama kekuasaan  ordeba masih memimpin, mereka akan tetap dianggap sampah politik yang perlu dibuang jauh-jauh. Mereka mengalami deskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya deskriminasi sosial yang dimana mereka akan selalu dikucilkan oleh para tetangga, tapi juga deskriminasi di bidang ekonomi. Mereka tidak bisa bekerja dalam beberapa sektor terutama dalam pemerintahan. Karena terdapat program bersih lingkungan yaitu program pemerintah untuk menyaring pegawai agar tidak ada pegawainya yang berhubungan  dengan seorang tahanan politik ( tapol ).  Selain itu, pada KTP mantan tapol dan keluarganya akan diberi tanda yang bertuliskan ET yang artinya eks tapol.

Selain permasalahan eks tapol dan keluarganya, terdapat permasalan sosial lainnya seperti penjarahan etnis cina yang dilakukan oleh beberapa oknum. Harga kebutuhan  pokok melonjak tinggi sehingga banyak masyarakat sulit memenuhinya.  Demo dan kerusuhan ada dimana terutama daerah di ibu kota. Penyebab berbagai kerusuhan itu karena ketidakstabilan ekonomi yang diakibatkan dari ketidakstabilan politik. Banyak masyarakat yang sudah merasa resah karena kepemimpinan ordeba yang sudah sangat  lama. Sehingga menurut mereka presiden perlu turun dari kekuasaannya. Jika tidak, keadaan akan semakin buruk.

Proses Kreatif Pengarang Dilihat dari Cerita Novel Pulang

Melalui novel ini, pengarang mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap deskriminasi yang terjadi pada masa ordeba. Beliau memiliki pandapat bahwa ia tidak menyetujui paham komunisme tatepai juga setuju dengan deskriminasi yang dilakukan oleh ordeba. Pandangannya tersebut sudah tertuang dalam percakapan dan pemikiran para tokoh yang terdapat pada novel Pulang. Sebelum menulis novel ini, pengarang melakukan riset terlebih dahulu. Salah satunya dengan mewawancarai beberapa eks tapol yang terdampar di luar negeri dan tidak bisa kembali lagi. Hal tersebut bertujuan agar apa yang beliau tulis tidak menyimpang dengan kebenaran.  

Kelebihan dan Kekurangan Novel Pulang

Novel ini cukup menarik  dengan penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Pengangkatan topik yang cukup berani  dan cukup sensitif  untuk sebagian orang, sehingga menambah nilai plus untuk novel ini.  Penjelasan dari setiap cerita yang cukup lengkap  sehingga sebab dan akibat dalam cerita terpecahkan dengan tuntas. Akan tetapi, tidak semua umur dapat membacanya karena terdapat beberapa plot cerita yang mengandung unsur dewasa. Pembaca yang cocok untuk membaca buku ini yaitu umur 17 tahun keatas.

Kekurangan dari novel ini, terdapat sudut pandang yang membingungkan pada beberapa plot. Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, akan tetapi terdapat pergantian plot terkadang tidak ditunjukkan sudut pandang dari siapa. Misal pada plot pertama yaitu tokoh aku yang bercerita yaitu Hananto, tapi pada plot kedua tokoh aku  tiba-tiba menjadi  Dimas yang bercerita. Sehingga jika pembaca kurang cermat pasti akan kebingungan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar