Ulasan Singkat Novel Pulang
Dimas Suryo adalah seorang senang sekali belajar dan memahami banyak hal. Ia bergaul dengan siapa saja dari berbagai golongan dan berbagai pemahaman. Dalam perjalanan politiknya pun dirinya tidak pernah seratus persen yakin pada satu aliran politik saja. Ia paham bagaimana konsep komunisme, sosialisme, kapitalisme tetapi dirinya memilih untuk tidak berlabuh pada salah satu dari itu. Ia akan menunjukkan rasa kritisnya terhadap semua paham tadi. Itulah yang menjadi salah satu keputusan dalam hidupnya yaitu tidak berlabuh di sisi manapun. Meskipun begitu, hubungan dirinya dengan teman-temannya masih tetap berjalan dengan baik meskipun berbeda paham.
Setelah 12 hari, Dimas menerima pesan telegram
dari adiknya yaitu Aji. Ia memberi kabar bahwa ibu dan dirinya baik-baik saja.
Meskipun sempat diintrogasi dan rumahnya diobrak-abrik. Bersyukur mereka tidak
menyiksa ibu ataupun dirinya dan keluarga. Kemudian Aji juga berpesan kepada
Dimas untuk tidak kembali dulu ke Indonesia karena situasi sedang memanas. Hingga
menjelang dua minggu setelah peristiwa besar tersebut, Nugroho belum
mendapatkan kabar dari istri dan keluarganya. Akan tetapi Nugroho selalu percaya bahwa istri dan anaknya akan baik-baik
saja. Kemudian Nugroho dan Dimas memutuskan
untuk pergi ke Havana untuk bertemu Risjaf yang mengikuti konfrensi Organisasi
Setiakawan Rakyat Asia-Afrika. Dari hari ke hari kabar buruk terus datang bergantian, seperti kabar anggota partai komunis, keluarga partai
komunis, atau mereka yang dianggap simpatisan komunis akan ditangkap dan
dieksekusi. Salah satu orang yang mereka
cemaskan adalah seorang Hananto dan juga
keluarganya karena mereka tidak bisa dihubungi dan juga tidak memberi kabar.
Hananto yang merupakan pimpinan redaksi Berita Nusantara dan juga sahabat
mereka, dia adalah seorang simpatisan
komunis.Ia sangat berpegang teguh dengan paham komunisme. Maka dari itu Dimas
dan kawan-kawan sangat mengkhawatirkan nasib dari Hananto dan juga anak dan istrinya
karena pasti mereka juga menjadi target dari penangkapan oleh para tentara.
Selang
beberapa hari, paspor Indonesia mereka dicabut. Mereka hidup tanpa kepastian
dan tanpa identintas di negeri orang. Ketidak jelasan tentang hidup mulai
dirasakan . Mereka tidak tahu nasib mereka ke depannya akan seperti apa. Rasa
kegelisahan tersebut terus memuncak ketika mereka teringat dengan tanah air
yaitu Indonesia. Karena berada pada keadaan yang tidak pasti, mereka memutuskan
untuk pergi ke Peking karena disana terdapat banyak teman yang akan
membantu kehidupan ke depannya. Mereka
menetap di Peking selama tiga tahun. Disana mereka melakukan kegiatan-kegiatan
pengabdian yang berkaitan tentang absolutisme revolusi kebudayaan. Hingga suatu hari Dimas sudah
merasa sesak dan semakin gelisah dengan keadaan dan kegiatan-kegiatan yang
kurang disukai olehnya. Belum lama Dimas mendapatkan kabar bahwa salah satu teman yang bernama Tjai
berhasil menyelamatkan diri ke Singapura.
Dimas
sangat ingin keluar dari wilayah itu,
hingga pada akhirnya ia mengajak Ritjaf untuk pergi dari Peking menuju
Paris agar bisa bertemu dengan Tjai.
Karena Tjai dan keluarganya berencana
untuk pindah antara ke Paris atau Amsterdam. Sehingga nantinya mereka berharap
agar bisa bertemu dan dapat menetap di satu wilayah bersama-sama. Akhirnya
Dimas, Nugroho, dan juga Ritjaf bisa keluar dari wilayah Peking meski dengan
prosedur yang sangat sulit. Sementara mereka terpisah dengan menetap di wilayah
yang berbeda. Hingga pada akhirnya mereka bertiga dan juga Tjai dapat berkumpul kembali di Paris.
Kehidupan
benar- benar dimulai kembali setelah semua berkumpul di Paris. Yang pertama
mereka lakukan adalah mendapatkan kewarganegaraan. Proses mendapatkan kewarganegaraan
pun cukup lama. Perlu melalui prosedur dan persyaratan yang sangat rumit. Untuk
sementara mereka mendapatkan surat perjalanan. Mereka bisa berpergian kemana
saja kecuali Indonesia. Selain itu,mereka juga memulai bekerja serabutan untuk membantu memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Apapun pekerjaannya mereka siap melakukannya.
Bertahun-tahun
kehidupan sudah berjalan. Masing-masing sudah memiliki keluarga baru
masing-masing. Kehidupan pun terus berjalan dengan baik tanpa ada gangguan
apapun. Mereka tetap berkomunikasi
dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia dengan surat. Selain melalui
surat, mereka juga rajin memantau keadaan Indonesia melalui siaran berita.
Tetapi mereka tetap masih terus merasa gelisah
karena sama sekali tidak bisa kembali ke Indonesia. Setiap tahun mereka
mengajukan visa ke KBRI untuk berkunjung
ke Indonesia tapi selalu ditolak tanpa
ada alasan yang jelas.
Represenstasi Kehidupan Sosial Masa Ordeba Dalam Novel Pulang
Realitas
yang menjadi latar belakang berjalannya cerita seperti situasi sosial
masyarakat setelah tragedi September 1965, bergantinya pemerintah Orde Lama ke
Orde Baru, kondisi sosial eksil politik Indonesia di dalam maupun di luar negeri.
Banyak sekali kejadian yang tidak pernah
terungkap di balik peristiwa luar biasa di Indonesia. Pada novel Pulang ini, penulis berusaha mengungkap
fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Karena hingga pada masa sekarang ini banyak sekali orang-orang yang tidak
mengetahuinya . Pemerintah berhasil mempengaruhi pemikiran masyarakat yang tidak mengetahui apa-apa
tentang berbagai kejadian ketidakadilan tersebut.
Berbagai persoalan sosial yang ada di Indonesia pada zaman ordeba digambarkan dengan jelas dalam novel ini. Penulis mengungkapkan pemikirannya melalui sudut pandang dan juga tokoh-tokoh dalam novel. Tokoh – tokoh dalam novel Pulang merupakan gambaran orang-orang yang diasingkan dari Indonesia karena dianggap berbahaya dan juga terlibat pada peristiwa 30 September 1965. Selain mereka yang diasingkan, keluarga mereka pun juga terdampak . Tekanan dan berbagai siksaan sudah mereka rasakan. Rasa takut dan khawatir mengintai setiap harinya. Mereka mengalami trauma secara fisik dan juga psikis. Hak asasi manusia sudah mulai memudar dengan banyaknya orang yang hilang, disiksa, kemudian dieksekusi tanpa tahu kesalahan apa yang mereka lakukan. Pada intinya setiap individu yang berhubungan dengan orang-orang yang dianggap simpatisan komunis pasti akan menjadi target penangkapan, meskipun hanya berteman baik pun pasti akan tertangkap dan diintrogasi.
Permasalahan tersebut terus berlanjut hingga bertahun-tahun. Selama kekuasaan ordeba masih memimpin, mereka akan tetap dianggap sampah politik yang perlu dibuang jauh-jauh. Mereka mengalami deskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya deskriminasi sosial yang dimana mereka akan selalu dikucilkan oleh para tetangga, tapi juga deskriminasi di bidang ekonomi. Mereka tidak bisa bekerja dalam beberapa sektor terutama dalam pemerintahan. Karena terdapat program bersih lingkungan yaitu program pemerintah untuk menyaring pegawai agar tidak ada pegawainya yang berhubungan dengan seorang tahanan politik ( tapol ). Selain itu, pada KTP mantan tapol dan keluarganya akan diberi tanda yang bertuliskan ET yang artinya eks tapol.
Selain permasalahan eks tapol dan keluarganya,
terdapat permasalan sosial lainnya seperti penjarahan etnis cina yang dilakukan
oleh beberapa oknum. Harga kebutuhan
pokok melonjak tinggi sehingga banyak masyarakat sulit memenuhinya. Demo dan kerusuhan ada dimana terutama daerah
di ibu kota. Penyebab berbagai kerusuhan itu karena ketidakstabilan ekonomi
yang diakibatkan dari ketidakstabilan politik. Banyak masyarakat yang sudah
merasa resah karena kepemimpinan ordeba yang sudah sangat lama. Sehingga menurut mereka presiden perlu
turun dari kekuasaannya. Jika tidak, keadaan akan semakin buruk.
Proses Kreatif Pengarang Dilihat dari Cerita Novel Pulang
Melalui
novel ini, pengarang mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap deskriminasi yang
terjadi pada masa ordeba. Beliau memiliki pandapat bahwa ia tidak menyetujui
paham komunisme tatepai juga setuju dengan deskriminasi yang dilakukan oleh
ordeba. Pandangannya tersebut sudah tertuang dalam percakapan dan pemikiran
para tokoh yang terdapat pada novel Pulang.
Sebelum menulis novel ini, pengarang melakukan riset terlebih dahulu. Salah
satunya dengan mewawancarai beberapa eks tapol yang terdampar di luar negeri
dan tidak bisa kembali lagi. Hal tersebut bertujuan agar apa yang beliau tulis
tidak menyimpang dengan kebenaran.
Kelebihan dan Kekurangan Novel Pulang
Novel
ini cukup menarik dengan penggunaan
bahasa yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Pengangkatan topik yang cukup
berani dan cukup sensitif untuk sebagian orang, sehingga menambah nilai
plus untuk novel ini. Penjelasan dari
setiap cerita yang cukup lengkap sehingga
sebab dan akibat dalam cerita terpecahkan dengan tuntas. Akan tetapi, tidak
semua umur dapat membacanya karena terdapat beberapa plot cerita yang
mengandung unsur dewasa. Pembaca yang cocok untuk membaca buku ini yaitu umur
17 tahun keatas.
Kekurangan
dari novel ini, terdapat sudut pandang yang membingungkan pada beberapa plot.
Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, akan tetapi terdapat pergantian
plot terkadang tidak ditunjukkan sudut pandang dari siapa. Misal pada plot
pertama yaitu tokoh aku yang bercerita yaitu Hananto, tapi pada plot kedua tokoh
aku tiba-tiba menjadi Dimas yang bercerita. Sehingga jika pembaca
kurang cermat pasti akan kebingungan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar