Syahid Muhammad merupakan seorang
penulis novel yang memulai debut kepenuliasannya pada tahun 2017. Syahid mulai
dikenal sebagai penulis melalui novel pertamanya yang berkolaborasi dengan
Stefani Bella yaitu Amor Fati dan Egosentris. Syahid yang biasa dipanggil Iid
sudah sangat suka menulis sejak ia duduk bangku sekolah menengah atas (SMA).
Namun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Alhasil, ia kekurangan rasa
percaya diri dan memutuskan untuk berhenti selama belasan tahun.
Kemampuan menulis yang tidak didukung
dengan lingkungan sekitarnya menimbulkan rasa trauma yang berkepanjangan. Sejak
saat itu, rasa kepercayaan terhadap dirinya mulai menurun. Iid selalu merasa
takut dan tidak percaya terhadap apa yang dilakukan. Ia berpandang bahwa semua
hal yang dilakukannya harus menyenangkan orang lain. Hal tersebut menyebabkan
timbulnya keresahan. Kemudian dari keresahan itu, Iid mulai kehilangan arah karena
tidak tahu hal apa yang harus dilakukan. Hingga pada suatu hari, ia mengalami quarter life crisis dengan ditandai
munculnya serangan panik pertama. Ia
mendiaknosis dirinya sendiri mengalami anxiety disorder atau gangguan
kecemasan. Hal tersebut dirasakannya
selama bertahun-tahun dan di setiap malam harus menenangkan dirinya sendiri
agar tidak terjadi serangan panik lagi.
Beberapa waktu kemudian Iid menyadari
bahwa kecenderungan-kecenderungan yang membuatnya resah mendorongnya untuk
melakukan hal-hal yang ia butuhkan. Salah satunya yaitu ingin memiliki koneksi
dengan orang lain. Selain itu, ia juga menginginkan rasa nyaman dalam
berekpresi yaitu dengan melakukan proses kreatif menciptakan sebuah karya. Iid
mengatakan bahwa kecenderungan-kecenderungan tersebut menjadi sebuah bahan
bakar yang digunakan untuk menghasilkan sebuah media yang digunakan untuk
menjalin koneksi dengan orang lain. Media tersebut yaitu sebuah karya atau
cerita. Ia mengolah keresahan-keresahan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat
seperti karya yang dijadikan media untuk menjalin koneksi dengan orang lain.
Setelah itu, ia bertemu dengan
temannya dan diajak untuk menerbitkan karya-karya yang ditulisnya. Menurut Iid
karya-karya yang diterbitkan kepada khalayak banyak tersebut menjadi sebuah
manifestasi atas keinginannya menjalin koneksi dengan orang lain. Melalui
karyanya, ia menjadi lebih bisa memahami orang lain. Dan melalui
keresahan-keresahan tersebut ia mulai belajar memahami dirinya. Bisa dikatakan,
menulis karya bagi Iid menjadi titik balik kebangkitannya dari masa terpuruknya
dulu.
Karya-karya Iid banyak mengangkat
tema tentang isu kesehatan mental. Berawal dari latar belakangnya yang pernah
mengalami gangguan kesehatan mental yaitu anxiety disorder. Alasan lainnya
yaitu karena keadaan masyarakat yang masih meremehkan isu-isu kesehatan mental.
Sebagian besar masyarakat masih menganggap isu kesehatan mental merupakan
sesuatu yang tabu dan memalukan. Masyarakat juga masih kerap mengaitkan isu
kesehatan mental dengan agama dan hal-hal ghaib. Iid berusaha mengisi
kekosongan yang tidak diketahui oleh msayarakat tentang kesehatan mental
melalui karya-karyanya.
Saat ini ia telah menerbitkan
sebanyak sembilan karya berupa novel dan esai dan semuanya bertemakan tentang
kesehatan mental. Iid tidak hanya mengenalkannya secara singkat, namun juga
secara luas dan menyeluruh. Maksudnya, Iid tidak hanya memberi tahu apa itu
kesehatan mental tetapi juga memberi tahu bagaimana seseorang mengalami
gangguan kesehatan mental dan bagaimana cara menanggulanginya. Iid berusaha
menyampaikan pesan yang mendalam melalui setiap karyanya. Tidak heran jika
setiap karyanya memiliki tempat tersendiri bagi para penikmatnya. Cerita-cerita
yang diangkat pun sangat relate dengan
cerita kehidupan yang terjadi pada pribadi masyarakat.
Kesembilan karya Syahid Muhammad tersebut yaitu Amor Fati (2017), Egosentris (2018), Kamu Gak Sendiri (2019), Saddha (2019), Duduk dulu, jangan lupa (2021), dan karyanya yang terbaru Manusia dan Badainya (2022). Karya-karya tersebut dijadikan media untuk menyampaikan keresahan-keresahan yang dialami oleh Iid. Ia ingin keresahan-keresahan tersebut diolah menjadi sebuah hal yang bermanfaat. Menerbitkan karya-karya tersebut menjadi titik balik untuknya agar bisa bangkit dari quarter life crisis. Bagi Iid menulis menjadi sebuah obat untuk membantu menanggulangi anxiety disorder yang dialaminya. Kemampuannya menulis menjadi sebuah keuntungan untuk membantu dalam memahami keadaan dirinya sendiri. Selain itu melalui karya-karyanya ini, ia ingin dapat menjalin koneksi dengan orang lain dan memahami mereka melalui tulisan-tulisan yang sampai kepada mereka.








.jpg)




.jpg)





