Estetika dalam Naskah Drama Zetan Karya Putu Wijaya

Kajian estetika dalam naskah drama Zetan karya Putu Wijaya

Naskah drama Zetan merupakan salah satu karya dari penulis legendaris yaitu Putu Wijaya. Naskah drama ini terbit pada tahun 2006. Naskah drama ini menceritakan tentang seorang guru yang memutuskan keluar dari sekolahan dimana dirinya bekerja. Guru tersebut merasa tidak nyaman dengan sistem pendidikan yang diterapkan oleh  sekolahan tersebut. Sistem yang dijalankan tidak sesuai dengan prinsip yang dianutnya, hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk keluar. Ia menyampaikan ketidaksetujuannya dan kritiknya dengan monolog dan secara tersurat. Ia memutuskan mencari pekerjaan selain menjadi guru seperti menjadi tukang becak. Tetapi dirinya tidak merasa nyaman karena jati dirinya sesungguhnya yaitu mengajar. Hingga suatu hari datanglah seseorang yang bernama Zetan yang ingin berguru dengannya. Zetan ingin diajari bagaimana cara menjadi pahlawan. Kemudian guru pun mampu mengabulkan keinginan dari Zetan tersebut dengan memberikan nasihat dan kiat-kiat bagaimana menjadi seorang pahlawan.  Selain memberi nasihat, guru pun juga memberikan saran untuk Zetan agar pergi ke tempat bernama Indonesia supaya benar-benar menjadi pahlawan sejati.

Setiap karya sastra memiliki unsur estetik atau keindahan. Unsur estetik bisa secara langsung tersurat ataupun tersirat sehingga perlu telaah lebih mendalam untuk mengetahuinya. Salah satu unsur estetika pada karya sastra terdapat pada penggunaan bahasa. Unsur estetik menjadi sumber daya tarik untuk pembaca dalam  menikmati suatu karya sastra. Tidak hanya menjadi sumber daya tarik, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan kepada pembaca oleh pengarang. Naskah drama merupakan salah satu jenis karya sastra dan pasti juga memiliki unsur-unsur estetik yang terkandung. Adapun unsur estetik karya  dapat dikaji menggunakan enam parameter seperti kesatuan, keserasian, kesimestrisan, pertentangan, perlambangan, dan kebahasan. Berikut ini kajian unsur estetik dalam naskah drama Zetan karya Putu Wijaya dengan menggunakan parameter tersebut.

Melalui parameter kesatuan, keestetikan naskah drama dapat dilihat melalui keruntutan alur cerita. Alur yang digunakan pada sebagian besar naskah drama adalah alur maju. Begitupun dengan naskah drama Zetan yang juga menggunakan alur maju. Karena cerita yang disajikan termasuk cerita yang sederhana dan berupa percakapan maka sangat diperlukan penggunaan alur maju. Pada awal cerita nakah drama ini, tokoh guru melakukan monolog dengan menyampaikan pendapatnya tentang sistem pendidikan di Akademik Mandiri yang buruk dan tidak sesuai dengan prinsip hidupnya. Kemudian dilanjutkan percakapan dengan beberapa orang yang berada di rumah seperti istrinya.  Penggunaan alur cerita yang runtut membuat pembaca tidak merasa bingung saat menikmatinya.

Adapun kesimetrisan yang terdapat pada naskah drama ini dilihat melalui judul yang digunakan dengan isi cerita yang terkandung. Penggunaan kata ”Zetan” pada judul memiliki arti “Setan“ yang ditunjukkan dengan memunculkan tokoh yang bernama Zetan. Jika setan pada kehidupan sehari-hari digambarkan dengan karakter  yang buruk dan tercela, tetapi pada naskah drama ini penulis menggambarkan setan sebagai karakter yang baik. Hal itu dibuktikan dengan dirinya ingin menjadi pahlawan dan bisa membantu orang banyak. Tetapi juga terdapat maksud tersirat dengan menggunakan judul ” Zetan” yaitu menggambarkan keburukan dari sistem pendidikan Indonesia sama halnya dengan sifat asli makhluk setan yang buruk dan licik.

Pada naskah drama ini unsur pertentangan digambarkan pada konflik batin tokoh guru dan setan. Tokoh guru merasa sangat marah dan kecewa dengan buruknya sistem birokrasi pendidikan. Ia merasa sedih dan miris dengan bangsa ini jika sistem  yang buruk tetqpi masih tetap bertahan tanpa adanya perubahan. Ia juga merasa cemas dengan kelangsungan bangsa ini, jika sistem pendidikan yang hanya mementingkan kuantintas tanpa memperdulikan kualitas. Semua hanya mementingkan keuntungan tanpa memperhatikan apakah cara yang digunakan sesuai atau tidak. Sehingga sumber manusia yang tercipta juga buruk. Mereka akan terbentuk karakter yang hanya fokus kepada hasil tanpa peduli dengan prosesnya, sehinggan terbentuklah  karakter sebagai orang-orang yang serakah. Kemudian konflik batin seorang Setan yang merasa bingung dan terancam. Dirinya berusaha untuk menjadi yang baik dengan membantu negara Indonesia yang bobrok, tapi ketika dirinya kembali ke bangsanya justru tidak diterima karena dianggap sebagai ancaman. Karena sesungguhnya setan bukan tercipta untuk membantu kebaikan tetapi suatu keburukan. Hal itu membuat orang-orang di bangsanya terancam karena semua orang telah berubah menjadi baik.

Jika dilihat dari parameter keserasian, Putu Wijaya menyandingkan unsur sosial masyarakat dan pendidkan. Penyandingan kedua unsur tersebut digunakan sebagai pengembangan tema yang diangkat yaitu kritik terhadap pendidikan. Penyandingan antar unsur tersebut membantu penulis menyampaikan pesan dan kritik  sehingga dapat diterima oleh pembaca. Terkadang tidak adanya media yang sesuai  maka  kritik sulit untuk tersampaikan.  Oleh karena itu, dengan menggunakan  karya sastra ini kritik terhadap pemerintah dapat tersampaikan dengan baik.

Keestetikan naskan drama ini juga dapat dilihat dari parameter keseimbangan, dimana keseimbangan tersebut dapat dilihat menggunakan sudut pandang yang digunakan. Naskah drama Zetan menggunakan sudut pandang orang pertama “aku” yang berperan sebagai tokoh utama yaitu guru. Untuk melihat sudut pandang dan  tokoh utama yang terdapat di naskah drama, maka dapat dilihat melalui percakapan yang terbanyak. Tokoh utama “aku” menjadi sentral cerita dengan ditunjukkan melalui monolog yang dilakukannya dan dialog-dialognya yang dominan daripada tokoh yang lain. Monolog yang dilakuakannya sendiri menjadi kunci jalannya cerita pada naskah drama ini. Seluruh pesan dan kritik terdapat pada monolog yang disampaikan oleh tokoh “aku” yaitu guru. Tetapi munculnya tokoh lain dalam setiap percakapan memiliki peran yang sangat penting juga. Karena tanpa adanya tokoh lainnya cerita tidak akan berjalan dengan baik dan muncullah keseimbangan pada cerita. 

Parameter selanjutnya adalah perlambangan atau simbol yang terdapat pada naskah drama. Kata “Zetan” yang berarti setan menjadi simbol kemarahan penulis terhadap pemerintahan bangsa ini. Sistem pemerintahan yang rusak dan sistem pendidikan yang buruk. Sistem pendidikan yang hanya mementingkan biaya saja tanpa memperdulikan kualitas yang diciptakan. Semua dinilai menggunakan angka seperti biaya dan kelulusan dengan nilai tinggi  menjadi hal yang utama dalam sistem pendidikan ini. Karkater dan moral tidak pernah dipedulikan, sehingga menciptakan orang-orang yang  memiliki budi pekerti yang buruk. Akibatnya terlihat pada orang-orang yang duduk di pemerintahan. Mereka yang tidak berkompeten dan hanya bisa mengandalkan kekayaannya saja. Maka terciptalah pemerintah yang bobrok dengan banyaknya koruptor yang bersarang. Semua kritik tersebut disampaikan tokoh utama melalui monolog dan dialog dengan tokoh lain.

Keestetikan yang terakhir dilihat dari segi bahasa. Pada naskah ini, Putu Wijaya mengungkapkan kritik dan pendapatnya dibalut dengan unsur sastra yaitu keindahan yang ditunjukkan pada penggunaan bahasa. Pemilihan kata yang sederhana dan tidak rumit dapat memudahkan pembaca memahami maksud yang disampaikan. Tidak ada penggunaan majas sehingga lebih memudahkan pembaca dalam memahami teks. Terdapat kalimat-kalimat sindiran yang menjadi daya tarik untuk pembaca.

Dengan mengkaji suatu karya menggunakan teori estetik, kita dapat mengetahui keindahan yang terkandung dari suatu karya. Selain itu, kita juga dapat mengerti maksud dari karya sastra tersebut tercipta. Melalui keindahan suatu karya sastra, pendapat dan kritik dapat tersampaikan dengan baik dan bisa diterima oleh banyak orang. Naskah drama Zetan  karya Putu Wijaya ini berperan sebagai media untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Penyampaian kritik dibungkus dengan unsur keindahan dalam karya sastra sehingga dapat diterima oleh banyak masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar