Semiotika Puisi Suara Dari Ruma-Rumah Miring Karya Wiji Thukul

 

Semiotika Puisi Suara Dari Ruma-Rumah Miring Karya Wiji Thukul

Puisi merupakan salah satu jenis  karya sastra. Jika diperbandingkan dengan dengan jenis-jenis karya sastra yang lainnya, secara fisik dan struktur puisi memiliki bentuk yang paling sederhana tetapi memiliki makna yang sangat dalam bagi penulis dan pembaca. Menurut Waluyo (dalam Pribadi dan Dida, 2019) berpendapat bahwa puisi merupakan karya sastra yang memanifestasikan atau mengimplemantasikan pikiran dan keadaan jiwa seorang penyair atau penulis puisi secara imajinatif dan disusun dengan menfokuskan kepada kemahiran berbahasa dengan menghubungkan struktur fisik dan batinnya.  Keindahan sebuah puisi dilihat dari penggunaan bahasanya. Puisi menggunakan bahasa yang bersifat konotasi artinya bahasa yang digunakan tidak memiliki makna sebenarnya dengan seperti apa yang terlukis atau memiliki makna ganda. Semakin banyak penggunaan bahasa yang bersifat konotasi maka nilai seni yang terkandung semakin tinggi.

Penggunaan bahasa yang bersifat konotasi tersebut memiliki hubungan erat dengan simbol dan tanda. Sebuah puisi bisa dinikmati melalui penanda atau simbol yang terdapat pada sebuah puisi (Pribadi dan Dida, 2019). Penggunaan simbol merupakan sebuah perlambangan yang sangat multitafsir, karena setiap pembaca akan memberi makna yang berbeda-beda. Tidak hanya terjadi pada antara pembaca dengan pembaca lainnya saja, tetapi juga terjadi antar penulis dan pembaca. Apa yang dimaksud penulis berbeda dengan apa yang dimaksud pembaca. Hal itu menjadi nilai unggul sebuah karya sastra terutama puisi. 

Fenomena simbol, tanda penanda, dan perlambangan merupakan sesuatu yang biasa terjadi pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Fenoma tersebut tidak hanya terjadi pada karya sastra saja, tetapi juga dalam hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti penamaan terhadap sesuatu, penggunaan sesuatu, atau kebiasaan yang terjadi dalam masyarakat, dan lain-lainnya. Fenoma simbol, penanda, dan perlambangan tersebut berhubungan dengan ilmu yang mengkajinya yaitu semiotika. Menurut Dick Hartoko (dalam Pribadi dan Dida,2019) berpendapat bahwa semiotika adalah ilmu yang secara kontekstual penanda dan lambang, sistem dan perlambangan. Pada hakikatnya semiotika adalah bidang keilmuan yang mengkaji semua tanda kehidupan yang tumbuh di masyarakat.

Secara etimologi semiotika berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “semeion” yang berarti tanda atau “seme” yang berarti penafsir tanda. Pelopor dan peletak dasar ilmu semiotika ini yaitu Charles Sanders Peirce dan Ferdinand de Saussure.  Menurut Wiryaatmadja (dalam Pribadi dan Dida,2019) berpendapat bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam maknanya di dalam masyarakat, baik lugas atau literal maupun kias atau figuratif baik yang menggunakan bahasa atau non-bahasa. Semiotika mempelajari tentang sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Kriyantono dalam Puspitasari, 2021). Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Salah satu kegunaan ilmu semiotika ini yaitu untuk mentafsirkan suatu tanda yang terdapat pada berbagai elemen yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Hasil dari kegiatan penafsiran tanda tersebut yaitu untuk memahami terhadap  sesuatu yang kita lakukan  dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep semiotika yang dikemukakan C.S. Pierce membagi semiotika menjadi tiga unsur yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ketiganya didefiniskan sebagai berikut. Ikon adalah benda fisik yang menyerupai apa yang direpresentasikannya. Representasi tersebut ditandai dengan kemiripan, contoh : gambar, patung, lukisan, dan lain-lainnya. Ikon didefinisikan sebagai tanda yang mirip antara benda aslinya dengan apa yang dipresentasikan. Indeks adalah hubungan antara tanda dan petanda yang berhubungan sebab-akibat, karena tanda dalam indeks tidak muncul jika petandanya tidak hadir. Simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petanda. Hubungan tersebut bersifat arbiter atau semena-mena.

Tujuan analisis ini adalah untuk memahami dan mengetahui tanda yang berupa indeks, ikon, dan simbol yang terdapat puisi pada Suara Dari Rumah-Rumah Miring. Puisi tersebut ditulis oleh Wiji Thukul pada tahun 1987. Secara singkat puisi tersebut menggambarkan keadaan masyarakat miskin yang berada di tengah ibu kota. Wiji Thukul sebagai penulis puisi, menggunakan berabagai tanda yang diimplementasikan dalam bentuk metafora. Puisi bentuk sebuah kritik yang ditujukan kepada pemerintah agar mereka memerhatikan rakyat yang masih kesulitan. Tidak hanya itu, dalam puisi tersebut juga menyampaikan harapan-harapan yang dimiliki oleh rakyat-rakyat kecil tersebut.

Ikon yang terdapat pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring ditemukan pada bait keenam, kesebelas, dan ketujuh belas yaitu “bersama tumpukan gombal-gombal dan piring-piring”, “Dari atap ke atap”, dan “sandiwara obat-obatan”. Pertama,”tumpukan gombal-gombal” tersebut berarti baju atau pakaian. Kata”gombal” sering digunakan oleh masyarakat Jawa yang disamakan dengan pakaian-pakaian. Penggunaan kata”gombal” digunakan untuk merujuk kepada pakaian yang jumlahnya banyak. Kedua, “Dari atap ke atap” berarti atap rumah atau bagian atas rumah. Kata “atap” tersebut disamakan dengan atas atau genting rumah. Akan tetapi, konteks pada puisi tersebut “atap” yang dimaksud adalah langit yang berada di bagian atas atap atau genting rumah. Ketiga, “sandiwara obat-obat” yang digunakan untuk merujuk kepada hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. Obat disamakan dengan kesehatan karena  meraka saling terkait. Obat menjadai bagian dari kesehatan. “Sandiwara obat-obat” tersebut memiliki makna bahwa berita-berita tentang kesehatan yang selalu didengar oleh mereka melalui radio. Ikon-ikon diartikan melalui persamaan yang berkaitan dengan hal-hal yang tersiratkan dalam puisi. Melalui persamaan tersebut, maka dapat diketahui makna yang dimaksud bait-bait pada puisi tersebut.

Indeks yang terdapat pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring ditemukan pada bait pertama dan ketiga Kata-kata yang termasuk pada indeks puisi tersebut seperti “menikmati cicit tikus” dan  “mencium selokan dan sampan”. Pertama, “menikmati cicit tikus” terdapat bait pertama. Arti dari “cicit tikus” adalah suara berisik tikus. Suara cicit tikus tersebut akibat dari adanya tikus di dalam rumah. Puisi tersebut menggambarkan keadaan rumah yang berada di pinggiran kota, berada di wiliyah kumuh dengan banyak sampah. Oleh karena itu, penyebab adanya suara tikus yang sering kali terdengar. Kedua, “mencium selokan dan sampan” terdapat pada bait ketiga. Bait “kami mencium selokan dan sampan” memiliki makna bahwa rumah mereka terletak pada daerah yang sempit sehingga bau selokan dapat tercium. Untuk itu, penyebab adanya bait tersebut adalah gambaran bahwa rumah mereka terletak pada daerah yang sempit. Bau tersebut berasal dari sampah yang terdapat di selokan. Makna indeks  merujuk kepada hubungan sebab-akibat yang dimuncul dalam diksi. Diksi tersebut bisa berupa sebab atau akibat. Cara mentafsirkannya yaitu dengan melihat konteks kalimat pada bait.

Simbol yang terdapat pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring seperti “rumah miring”, “matahari menyelinap”, “hari-hari pengap”, dan “angkat kaki” Keempat simbol yang terdapat pada puisi memeiliki arti yang berbeda-beda. Pada frasa “rumah miring” memiliki makna rumah yang akan roboh. “Rumah miring” menjadi simbol terhadap rumah-rumah kecil yang terletak di pinggiran kota dengan material bangunan yang tidak berkualitas sehingga strukturnya tidak kokoh. Kedua, “matahari menyelinap” merupakan simbol waktu yaitu siang hari karena adanya matahari ketika waktu siang hari, dimana matahari muncul di atap rumah. Ketiga, “hari-hari pengap” merupakan simbol ketidaknyamanan yang dirasakan setiap harinya. Keempat “ angkat kaki” merupakan simbol untuk pergi dari tempat yang ditinggali. Frasa tersebut memiliki makna yang cukup kasar yaitu perintah untuk meninggalkan tempat atau pergi dengan cara diusir. Simbol meruapakan makna konotasi yang terkandung di dalam petanda.

 Berdasarkan analisis yang telah dilakukan di atas maka dapat disimpulkan terdapat beberapa hal seperti adanya ikon, indeks, dan simbol yang ada pada puisi Suara dari Rumah-Rumah. Ikon pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring berjumlah tiga, indeks berjumlah dua, dan simbol berjumlah empat. Melalui analisis puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring karya Wiji Thukul dengan menggunakan konsep semiotika Pierce, maka dapat mempermudah makna yang terkandung dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Makna yang terkandung puisi yaitu penulis ingin menjelaskan dan menggambarkan bagaimana keadaan orang-orang pinggiran kota. Penulis menjelaskan menggunakan sudut pandang suasana rumah yang berada di pinggir kota yang jauh dari rasa nyaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar