Simbol-Simbol yang Terdapat Dalam Cerpen Coret-Coret di Toilet Karya Eka Kurniawan

 

Cerpen ini bercerita tentang toilet kampus yang penuh dengan coretan di dindingnya. Coretan tersebut tidak hanya sembarang tulisan biasa, tetapi berisi tentang aspirasi-aspirasi yang tidak pernah tersampaikan.

Coret-Coret di Toilet merupakan salah satu cerpen dari 12 yang ada dalam buku kumpulan cerita karya Eka Kurniawan. Cerpen ini merupakan gambaran sederhana realita kehidupan. Coret-coret yang terdapat di toilet umum merupakan suatu hal yang  biasa terjadi. Tetapi terdapat makna tersendiri di balik coret-coret tersebut.

Sinopsis Cerpen Coret-Coret di Toilet

Cerpen ini bercerita tentang toilet kampus yang penuh dengan coretan di dindingnya. Coretan tersebut tidak hanya sembarang tulisan biasa, tetapi berisi tentang aspirasi-aspirasi yang tidak pernah tersampaikan. Di mulai dengan satu orang anak punk  yang sangat  tertarik dengan dinding toilet yang bersih. Ia memulai menuliskan sebuah tulisan. Kemudian melalui satu tulisan tersebut muncullah berbagai komentar-komentar yang beragam. Hingga membuat dinding toilet kampus tersebut penuh. Para pengunjung toilet memiliki dua tujuan pergi ke toilet, yaitu membuang hajat  dan mencoret-coret dinding. Hingga suatu hari, datanglah orang lain yang sangat prihatin melihat rusaknya dinding toilet. Dan dewan kampus pun membersihkan dinding toilet yang telah penuh dengan coretan. Tetapi sama saja, karena hari berikutnya pun tulisan sudah mulai bermunculan.

Unsur-Unsur Ekstrinsik dan Intrinsik Cerpen Coret-Coret di Toilet

Tema yang terkandung dalam cerpen adalah terpasungnya aspirasi pengguna toilet. Cerpen tersebut menggunakan alur maju dengan disebutkannya kalimat “ Dan gadis itu kemudian muncul”, “dua hari berlalu tanpa ada kejadian yang menghebohkan di toilet”,” kemudian di siang bolong”, “seminggu kemudian berlalu”. Cerpen ini memiliki banyak  tokoh yang diceritakan karena toilet tersebut adalah toilet umum. Tokoh-tokoh tersebut seperti; anak punk, gadis tomboy, mahasiswa yang memiliki masalah dengan salurannya, seorang hedonis yang suka danda, laki-laki bertubuh besar dan tinggi, anak sinting, dan anak alim. Latar tempat pada cerpen adalah toilet umum di kampus. Kemudian latar waktu yaitu pagi dan siang hari, dimana kegiatan kampus selalu berjalan di waktu tersebut. 

Amanat yang dapat disimpulkan dari cerpen tersebut adalah kita harus menjaga fasilitas umum dengan sebaik-baiknya, yang diutamakan pada cerpen ini adalah toilet. Walaupun kita ingin menyampaikan aspirasi kita. Sudah banyak tempat yang disediakan sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi dan pendapat. Maka manfaatkanlah itu sebaik-baiknya. Selain itu, kita juga memiliki kewajiban lainnya dalam menjaga kebersihan toilet umum yaitu jangan membuang sampah sembarang.

Pengambilan toilet kampus bukan toilet di tempat umum lainnya, karena sering digunakan oleh para mahasiswa. Selain digunakan untuk membuang hajat, terdapat fungsi lain dari toilet yaitu menyampaikan aspirasi  dan isi kata hati  melalui tulisan. Berawal dari toilet yang bersih, hingga kemudian seorang pengunjung memiliki banyak ide dan menyalurkan idenya tersebut melalui goresan-goresan di toilet. Dari satu ide yang tergoreskan,  kemudian munculnya berbagai goresan ide lain dan juga komentar-komentar yang beragam. Goresan tersebut dibuat dari berbagai macam jenis mulai dari spidol, lipstick, pena, punting rokok, dan berbagai macam bahan yang bisa digunakan untuk menulis. Mereka merasa terdapat kekurangan jika tidak menuliskan seuatu di tembok.

Simbol-Simbol Dalam Cerpen Coret-Coret Di Toilet

Cerpen ini memiliki delapan simbol yang disampaikan melalui diksi-diksi yang tersirat. Pertama adalah latar toilet yang berada di kampus. Jika dikaitkan dengan tema cerpen ini yaitu terpasungnya aspirasi rakyat, pemilihan latar berupa toilet kampus dirasa sangat cocok. Kampus adalah tempat berkumpulnya kaum intelektual mahasiswa yang sudah mempunyai visi dan misi dalam kehidupan. Berbeda dengan toilet-toilet di tempat umum lain, yang sebagian besar pengunjungannya dari berbagai latar belakang. Kemudian, simbol dari coret-coret tersebut adalah aspirasi yang tidak bisa tersampaikan dengan baik. Sehingga aspirasi tersebut hanya dapat terpasung di balik dinding toilet.

Pernyataan mahasiswa yang penuh dengan semangat akan sebuah perjuangan reformasi. Meskipun kala itu ordeba sudah turun, akan tetapi reformasi yang diharapkan belum berjalan dengan semestinya. Diksi-diksi mereka penuh dengan gagasan yang menentang reformasi. Mereka menyampaikan rasa ketidakpercayaan atas proses perubahan yang sedang berjalan. Hal tersebut terjadi akibat masih banyaknya kroni-kroni ordeba yang masih berkuasa di perpolitikan dalam negerinya.  

Hingga beberapa hari kemudian, muncullah seorang mahasiswa yang sering disebut sebagai mahasiswa alim. Alasan disebut mahasiswa alim karena dia adalah mahasiswa yang sangat taat akan peraturan. Ia merasa sedih  dengan penuhnya coretan yang ada di dinding toilet kampus. Kesedihan atau keresahan mahasiswa alim tersebut memiliki simbol bahwa suatu perjuangan tidak harus dengan merusak yang bersifat anarkis.

Cerpen ini diciptakan oleh pengarang pada tahun 1999. Dimana keadaan sosial politik masyarakat Indonesia belum cukuplah stabil dan masih banyak membutuhkan perbaikan. Masih perlu banyak pengawasan agar semua cita-cita yang diharapkan oleh bangsa ini bisa tercapai. Pada masa itu media media menyampaikan aspirasi belumlah banyak seperti sekarang ini. Sehingga dinding toilet dijadikan sebagai media untuk menyampaikan aspirasi. Mereka bisa bebas menuliskan pendapat apa saja yang mereka ingin kemukakan. Dinding toilet dianggap tempat yang paling mudah bagi mereka. Karena percuma saja untuk menyampaikan langsung kepada para anggota dewan yang tidak pernah mendengar aspirasi tersebut.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar