Sinopsis Cerpen Coret-Coret di Toilet
Cerpen ini bercerita tentang toilet kampus yang penuh dengan coretan di dindingnya. Coretan tersebut tidak hanya sembarang tulisan biasa, tetapi berisi tentang aspirasi-aspirasi yang tidak pernah tersampaikan. Di mulai dengan satu orang anak punk yang sangat tertarik dengan dinding toilet yang bersih. Ia memulai menuliskan sebuah tulisan. Kemudian melalui satu tulisan tersebut muncullah berbagai komentar-komentar yang beragam. Hingga membuat dinding toilet kampus tersebut penuh. Para pengunjung toilet memiliki dua tujuan pergi ke toilet, yaitu membuang hajat dan mencoret-coret dinding. Hingga suatu hari, datanglah orang lain yang sangat prihatin melihat rusaknya dinding toilet. Dan dewan kampus pun membersihkan dinding toilet yang telah penuh dengan coretan. Tetapi sama saja, karena hari berikutnya pun tulisan sudah mulai bermunculan.
Unsur-Unsur Ekstrinsik dan Intrinsik Cerpen Coret-Coret di Toilet
Tema
yang terkandung dalam cerpen adalah terpasungnya aspirasi pengguna toilet.
Cerpen tersebut menggunakan alur maju dengan disebutkannya kalimat “ Dan gadis
itu kemudian muncul”, “dua hari berlalu tanpa ada kejadian yang menghebohkan di
toilet”,” kemudian di siang bolong”, “seminggu kemudian berlalu”. Cerpen ini
memiliki banyak tokoh yang diceritakan
karena toilet tersebut adalah toilet umum. Tokoh-tokoh tersebut seperti; anak
punk, gadis tomboy, mahasiswa yang memiliki masalah dengan salurannya, seorang
hedonis yang suka danda, laki-laki bertubuh besar dan tinggi, anak sinting, dan
anak alim. Latar tempat pada cerpen adalah toilet umum di kampus. Kemudian
latar waktu yaitu pagi dan siang hari, dimana kegiatan kampus selalu berjalan
di waktu tersebut.
Amanat
yang dapat disimpulkan dari cerpen tersebut adalah kita harus menjaga fasilitas
umum dengan sebaik-baiknya, yang diutamakan pada cerpen ini adalah toilet.
Walaupun kita ingin menyampaikan aspirasi kita. Sudah banyak tempat yang
disediakan sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi dan pendapat. Maka
manfaatkanlah itu sebaik-baiknya. Selain itu, kita juga memiliki kewajiban
lainnya dalam menjaga kebersihan toilet umum yaitu jangan membuang sampah
sembarang.
Pengambilan
toilet kampus bukan toilet di tempat umum lainnya, karena sering digunakan oleh
para mahasiswa. Selain digunakan untuk membuang hajat, terdapat fungsi lain
dari toilet yaitu menyampaikan aspirasi
dan isi kata hati melalui
tulisan. Berawal dari toilet yang bersih, hingga kemudian seorang pengunjung
memiliki banyak ide dan menyalurkan idenya tersebut melalui goresan-goresan di
toilet. Dari satu ide yang tergoreskan,
kemudian munculnya berbagai goresan ide lain dan juga komentar-komentar
yang beragam. Goresan tersebut dibuat dari berbagai macam jenis mulai dari
spidol, lipstick, pena, punting rokok, dan berbagai macam bahan yang bisa
digunakan untuk menulis. Mereka merasa terdapat kekurangan jika tidak
menuliskan seuatu di tembok.
Simbol-Simbol Dalam Cerpen Coret-Coret Di Toilet
Cerpen
ini memiliki delapan simbol yang disampaikan melalui diksi-diksi yang tersirat.
Pertama adalah latar toilet yang berada di kampus. Jika dikaitkan dengan tema
cerpen ini yaitu terpasungnya aspirasi rakyat, pemilihan latar berupa toilet
kampus dirasa sangat cocok. Kampus adalah tempat berkumpulnya kaum intelektual
mahasiswa yang sudah mempunyai visi dan misi dalam kehidupan. Berbeda dengan toilet-toilet di tempat umum lain, yang
sebagian besar pengunjungannya dari berbagai latar belakang. Kemudian, simbol
dari coret-coret tersebut adalah aspirasi yang tidak bisa tersampaikan dengan
baik. Sehingga aspirasi tersebut hanya dapat terpasung di balik dinding toilet.
Pernyataan
mahasiswa yang penuh dengan semangat akan sebuah perjuangan reformasi. Meskipun
kala itu ordeba sudah turun, akan tetapi reformasi yang diharapkan belum
berjalan dengan semestinya. Diksi-diksi mereka penuh dengan gagasan yang
menentang reformasi. Mereka menyampaikan rasa ketidakpercayaan atas proses
perubahan yang sedang berjalan. Hal tersebut terjadi akibat masih banyaknya
kroni-kroni ordeba yang masih berkuasa di perpolitikan dalam negerinya.
Hingga
beberapa hari kemudian, muncullah seorang mahasiswa yang sering disebut sebagai
mahasiswa alim. Alasan disebut mahasiswa alim karena dia adalah mahasiswa yang
sangat taat akan peraturan. Ia merasa sedih dengan penuhnya coretan yang ada di dinding
toilet kampus. Kesedihan atau keresahan mahasiswa alim tersebut memiliki simbol
bahwa suatu perjuangan tidak harus dengan merusak yang bersifat anarkis.
Cerpen ini diciptakan oleh pengarang pada tahun 1999. Dimana keadaan sosial politik masyarakat Indonesia belum cukuplah stabil dan masih banyak membutuhkan perbaikan. Masih perlu banyak pengawasan agar semua cita-cita yang diharapkan oleh bangsa ini bisa tercapai. Pada masa itu media media menyampaikan aspirasi belumlah banyak seperti sekarang ini. Sehingga dinding toilet dijadikan sebagai media untuk menyampaikan aspirasi. Mereka bisa bebas menuliskan pendapat apa saja yang mereka ingin kemukakan. Dinding toilet dianggap tempat yang paling mudah bagi mereka. Karena percuma saja untuk menyampaikan langsung kepada para anggota dewan yang tidak pernah mendengar aspirasi tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar