Leila Salikha Chudori merupakan penulis kelahiran Jakarta, 12 Desember 1962. Ia merupakan putri seorang wartawan Kantor Berita Antara dan surat kabar The Jakarta Post yaitu Muhammad Chudori. Sejak kecil dirinya sudah tidak asing dengan dunia literasi karena pengaruh dari didikan orang tuanya yang berlatar belakang seorang wartawan. Sejak berusia 12 tahun, Leila telah mengahasilkan karya berupa cerpen anak yang diterbitkan di majalah Si Kucing (1973). Leila sempat mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di Laster B. Pearson College of the Pacific (United World College) di Victoria, Kanada. Kemudian melanjutkan dengan studi Political Science dan Comparative Development Studies di Universitas Trent, di kota yang sama, Kanada. Setelah enam tahun menempuh pendidikan di luar negeri, kemudian kembali ke tanah air dan menjadi seorang wartawan di majalah Tempo.
Leila
Chudori sangat mengagumi cerpen-cerpen karya Franz Kafka, pengarang Jerman yang
mempertanyakan eksistensi manusia, Dostoyewsky pengarang klasik Rusia yang menggerek jauh
ke dalam jiwa manusia. Selain itu, dirinya juga sangat mengagumi kisah
pewayangan seperti Baratayudha dan Ramayana. Hal yang selalu menjadi pedoman
dalam hidupnya yaitu nasihat dari ayahnya. Perkataan ayahnya yang selalu
teringat adalah alasan mengapa kita dilahirkan sebagai orang Indonesia dan
alasan itu harus dicari sepanjang hidup kita. Oleh karena itu, Leila memilih
untuk kembali ke Indonesia yang penuh dengan kesremautan. Melalui latar
belakang buku bacaannya dan pedoman hidupnya, terciptalah karya-karyanya
seperti Laut Bercerita, Pulang, Nadira, dan
buku kumpulan cerpen lainnya. Sebagian besar karyanya mengangkat tema tentang
kemanusiaan yang berlatar belakang pada masa
pemerintahan ordeba. Leila Chudori ingin menunjukka bahwa sebenarnya
masyarakat Indoensia pada zaman tersebut memiliki konflik yang sangat berat
dengan bersamaan konflik negara yang
tidak bisa terkendali. Melalui karyanya ia menunjukkan bahwa dirinya sangat
tidak setuju dengan pemerintah pada masa itu.
Keluarga Leila Chudori
berasal dari Cirebon, meskipun saat ini ia menetap dan tinggal di Jakarta. Hal
tersebut terlihat pada beberapa karyanya yang memiliki corak khas jawa.
Misalnya saja pada novel yang berjudul Nadira.
Novel tersebut diambil dari simpul-simpul kehidupan seoang Leila Chudori,
meskipun ceritanya bukan tersmasuk kisah hidupnya. Selain itu, pada karya Laut Bercerita dan Pulang memiliki corak jawa pada narasi cerita dengan menambahkan
unsur pewayangan.
![]() |
| Kumpulan Novel dan Cerpen Karya Leila S Chudori |
Selain menjadi seorang sastrawan, Leila
Chudori dulunya juga merupakan seorang wartawan. Dirinya menjadi wartawan pada
saat setelah dirinya kembali ke Indonesia dari Kanada. Ia menjadi wartawan
majalah Tempo pada tahun 1989 hingga 2009 kemudian berhenti.
Ia merasa menjadi wartawan sangat menyita waktunya sehingga dirinya tidak bisa
menulis fiksi. Selain menjadi sastrawan ia juga menjadi penulis skrip dan
produser series yang berjudul Dunia Tanpa Koma yang tayang di RCTI
pada tahun 2006. Dari karyanya tersebut, dirinya mendapatkan penghargaan Series
Tv terbaik pada ajang Festival Film di Bandung pada 2007. Kemudian ia juga
sempat memproduseri sebuah film yang berjudl Drupadi bersama Mira Lesmana dan Riri Riza pada tahun 2007.
Kemudian pada tahun 2010 hingga saat
ini, ia menjadi juri Penghargaan Film Indonesia / Indonesia Movie Awards yang
diorganisir oleh RCTI. Karya-karya yang sangat populer miliki Leila seperti Laut Bercerita, Pulang, Malam Terakhir, Nadira, dan masih banyak lagi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar