Menulis dan Menciptakan Karya Menjadi Media Untuk Bangkit Syahid Muhammad dari Keadaan Quarter Llife Crisis

Profil Singkat Syahid Muhammad

Syahid Muhammad merupakan seorang penulis novel yang memulai debut kepenuliasannya pada tahun 2017. Syahid mulai dikenal sebagai penulis melalui novel pertamanya yang berkolaborasi dengan Stefani Bella yaitu Amor Fati dan Egosentris. Syahid yang biasa dipanggil Iid sudah sangat suka menulis sejak ia duduk bangku sekolah menengah atas (SMA). Namun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Alhasil, ia kekurangan rasa percaya diri dan memutuskan untuk berhenti selama belasan tahun.

Kemampuan menulis yang tidak didukung dengan lingkungan sekitarnya menimbulkan rasa trauma yang berkepanjangan. Sejak saat itu, rasa kepercayaan terhadap dirinya mulai menurun. Iid selalu merasa takut dan tidak percaya terhadap apa yang dilakukan. Ia berpandang bahwa semua hal yang dilakukannya harus menyenangkan orang lain. Hal tersebut menyebabkan timbulnya keresahan. Kemudian dari keresahan itu, Iid mulai kehilangan arah karena tidak tahu hal apa yang harus dilakukan. Hingga pada suatu hari, ia mengalami quarter life crisis dengan ditandai munculnya serangan panik pertama.  Ia mendiaknosis dirinya sendiri mengalami anxiety disorder atau gangguan kecemasan.  Hal tersebut dirasakannya selama bertahun-tahun dan di setiap malam harus menenangkan dirinya sendiri agar tidak terjadi serangan panik lagi.

Beberapa waktu kemudian Iid menyadari bahwa kecenderungan-kecenderungan yang membuatnya resah mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang ia butuhkan. Salah satunya yaitu ingin memiliki koneksi dengan orang lain. Selain itu, ia juga menginginkan rasa nyaman dalam berekpresi yaitu dengan melakukan proses kreatif menciptakan sebuah karya. Iid mengatakan bahwa kecenderungan-kecenderungan tersebut menjadi sebuah bahan bakar yang digunakan untuk menghasilkan sebuah media yang digunakan untuk menjalin koneksi dengan orang lain. Media tersebut yaitu sebuah karya atau cerita. Ia mengolah keresahan-keresahan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti karya yang dijadikan media untuk menjalin koneksi dengan orang lain.  

Setelah itu, ia bertemu dengan temannya dan diajak untuk menerbitkan karya-karya yang ditulisnya. Menurut Iid karya-karya yang diterbitkan kepada khalayak banyak tersebut menjadi sebuah manifestasi atas keinginannya menjalin koneksi dengan orang lain. Melalui karyanya, ia menjadi lebih bisa memahami orang lain. Dan melalui keresahan-keresahan tersebut ia mulai belajar memahami dirinya. Bisa dikatakan, menulis karya bagi Iid menjadi titik balik kebangkitannya dari masa terpuruknya dulu.

Karya-karya Iid banyak mengangkat tema tentang isu kesehatan mental. Berawal dari latar belakangnya yang pernah mengalami gangguan kesehatan mental yaitu anxiety disorder. Alasan lainnya yaitu karena keadaan masyarakat yang masih meremehkan isu-isu kesehatan mental. Sebagian besar masyarakat masih menganggap isu kesehatan mental merupakan sesuatu yang tabu dan memalukan. Masyarakat juga masih kerap mengaitkan isu kesehatan mental dengan agama dan hal-hal ghaib. Iid berusaha mengisi kekosongan yang tidak diketahui oleh msayarakat tentang kesehatan mental melalui karya-karyanya.

Saat ini ia telah menerbitkan sebanyak sembilan karya berupa novel dan esai dan semuanya bertemakan tentang kesehatan mental. Iid tidak hanya mengenalkannya secara singkat, namun juga secara luas dan menyeluruh. Maksudnya, Iid tidak hanya memberi tahu apa itu kesehatan mental tetapi juga memberi tahu bagaimana seseorang mengalami gangguan kesehatan mental dan bagaimana cara menanggulanginya. Iid berusaha menyampaikan pesan yang mendalam melalui setiap karyanya. Tidak heran jika setiap karyanya memiliki tempat tersendiri bagi para penikmatnya. Cerita-cerita yang diangkat pun sangat relate dengan cerita kehidupan yang terjadi pada pribadi masyarakat.

Kesembilan karya Syahid Muhammad tersebut yaitu Amor Fati (2017), Egosentris (2018), Kamu Gak Sendiri (2019), Saddha (2019), Duduk dulu, jangan lupa (2021), dan karyanya yang terbaru Manusia dan Badainya (2022). Karya-karya tersebut dijadikan media untuk menyampaikan keresahan-keresahan yang dialami oleh Iid. Ia ingin keresahan-keresahan tersebut diolah menjadi sebuah hal yang bermanfaat. Menerbitkan karya-karya tersebut menjadi titik balik untuknya agar bisa bangkit dari quarter life crisis. Bagi Iid menulis menjadi sebuah obat untuk membantu menanggulangi anxiety disorder yang dialaminya. Kemampuannya menulis menjadi sebuah keuntungan untuk membantu dalam memahami keadaan dirinya sendiri. Selain itu melalui karya-karyanya ini, ia ingin dapat menjalin koneksi dengan orang lain dan memahami mereka melalui tulisan-tulisan yang sampai kepada mereka.   

Novel dan Kumpulan Cerpen Terbaik Karya Leila S Chudori


Leila S. Chudori adalah seorang penulis Indonesia yang dikenal dengan karya-karya fiksi prosanya yang kuat dan cerdas. Salah satu novel terbaik yang ditulis oleh Leila S. Chudori adalah "Pulang" yang terbit pada tahun 2012. Berikut ini adalah rekomendasi novel terbaik Leila S. Chudori:

1. Pulang (2012)

Rekomendasi novel dan kumpulan cerpen karya Leila S Chudori

Novel ini mengisahkan tentang perjuangan keluarga yang terpisah akibat peristiwa Gerakan 30 September (G30S) di Indonesia tahun 1965. Novel ini menyoroti pengalaman dan penderitaan para pengungsi politik Indonesia di luar negeri. "Pulang" memenangkan Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2013.

2. Laut Bercerita (2017)

Rekomendasi novel dan kumpulan cerpen karya Leila S Chudori

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta dan pertemanan di antara sekelompok mahasiswa Indonesia yang belajar di Paris pada masa Orde Baru di Indonesia. Cerita ini membawa pembaca melalui perjalanan emosional yang mendalam dan menyoroti tantangan yang dihadapi oleh generasi muda Indonesia saat itu.

3. Nadira (2009)

Rekomendasi novel dan kumpulan cerpen terbaik karya Leila S Chudori

Novel ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Nadira (merupakan tokoh utama dalam novel ini). Berawal dari kehilangan seorang ibu yang menjadikan kehidupannya berantakan. Kesedihan yang berlarut-larut menjadikan dirinya kalut tanpa henti. Selain itu, novel ini juga menyajikan kisah percintaan antara Nadira dan Utara Bayu.

4. Malam Terakhir (2009)

Rekomendasi novel dan kumpulan cerpen karya Leila S Chudori

Karya yang berjudul Malam Terakhir ini merupakan kumpulan cerita pendek yang diterbitkan pada tahun 2009. Terbitnya kumpulan Malam Terakhir ini menjadi salah satu penanda kembalinya Leila S Chudori ke dalam dunia sastra. Buku kumpulan cerpen ini memuat sekitar 10 judul cerita pendek. Cerpen-Cerpen tersebut mengangkat tema tentang kemanusian, gender, dan kekuasaan. Sebagian besar cerita menggunakan latar tahun 1998. 

Semua novel tersebut menawarkan penggambaran yang mendalam tentang sejarah dan kondisi sosial-politik Indonesia, sambil mengeksplorasi tema-tema universal seperti cinta, identitas, dan perjuangan individu. Karya-karya Leila S. Chudori mampu menghadirkan cerita yang menggugah emosi pembaca dan memberikan wawasan baru tentang kehidupan di Indonesia.

Semiotika Puisi Suara Dari Ruma-Rumah Miring Karya Wiji Thukul

 

Semiotika Puisi Suara Dari Ruma-Rumah Miring Karya Wiji Thukul

Puisi merupakan salah satu jenis  karya sastra. Jika diperbandingkan dengan dengan jenis-jenis karya sastra yang lainnya, secara fisik dan struktur puisi memiliki bentuk yang paling sederhana tetapi memiliki makna yang sangat dalam bagi penulis dan pembaca. Menurut Waluyo (dalam Pribadi dan Dida, 2019) berpendapat bahwa puisi merupakan karya sastra yang memanifestasikan atau mengimplemantasikan pikiran dan keadaan jiwa seorang penyair atau penulis puisi secara imajinatif dan disusun dengan menfokuskan kepada kemahiran berbahasa dengan menghubungkan struktur fisik dan batinnya.  Keindahan sebuah puisi dilihat dari penggunaan bahasanya. Puisi menggunakan bahasa yang bersifat konotasi artinya bahasa yang digunakan tidak memiliki makna sebenarnya dengan seperti apa yang terlukis atau memiliki makna ganda. Semakin banyak penggunaan bahasa yang bersifat konotasi maka nilai seni yang terkandung semakin tinggi.

Penggunaan bahasa yang bersifat konotasi tersebut memiliki hubungan erat dengan simbol dan tanda. Sebuah puisi bisa dinikmati melalui penanda atau simbol yang terdapat pada sebuah puisi (Pribadi dan Dida, 2019). Penggunaan simbol merupakan sebuah perlambangan yang sangat multitafsir, karena setiap pembaca akan memberi makna yang berbeda-beda. Tidak hanya terjadi pada antara pembaca dengan pembaca lainnya saja, tetapi juga terjadi antar penulis dan pembaca. Apa yang dimaksud penulis berbeda dengan apa yang dimaksud pembaca. Hal itu menjadi nilai unggul sebuah karya sastra terutama puisi. 

Fenomena simbol, tanda penanda, dan perlambangan merupakan sesuatu yang biasa terjadi pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Fenoma tersebut tidak hanya terjadi pada karya sastra saja, tetapi juga dalam hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti penamaan terhadap sesuatu, penggunaan sesuatu, atau kebiasaan yang terjadi dalam masyarakat, dan lain-lainnya. Fenoma simbol, penanda, dan perlambangan tersebut berhubungan dengan ilmu yang mengkajinya yaitu semiotika. Menurut Dick Hartoko (dalam Pribadi dan Dida,2019) berpendapat bahwa semiotika adalah ilmu yang secara kontekstual penanda dan lambang, sistem dan perlambangan. Pada hakikatnya semiotika adalah bidang keilmuan yang mengkaji semua tanda kehidupan yang tumbuh di masyarakat.

Secara etimologi semiotika berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “semeion” yang berarti tanda atau “seme” yang berarti penafsir tanda. Pelopor dan peletak dasar ilmu semiotika ini yaitu Charles Sanders Peirce dan Ferdinand de Saussure.  Menurut Wiryaatmadja (dalam Pribadi dan Dida,2019) berpendapat bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam maknanya di dalam masyarakat, baik lugas atau literal maupun kias atau figuratif baik yang menggunakan bahasa atau non-bahasa. Semiotika mempelajari tentang sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Kriyantono dalam Puspitasari, 2021). Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Salah satu kegunaan ilmu semiotika ini yaitu untuk mentafsirkan suatu tanda yang terdapat pada berbagai elemen yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Hasil dari kegiatan penafsiran tanda tersebut yaitu untuk memahami terhadap  sesuatu yang kita lakukan  dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep semiotika yang dikemukakan C.S. Pierce membagi semiotika menjadi tiga unsur yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ketiganya didefiniskan sebagai berikut. Ikon adalah benda fisik yang menyerupai apa yang direpresentasikannya. Representasi tersebut ditandai dengan kemiripan, contoh : gambar, patung, lukisan, dan lain-lainnya. Ikon didefinisikan sebagai tanda yang mirip antara benda aslinya dengan apa yang dipresentasikan. Indeks adalah hubungan antara tanda dan petanda yang berhubungan sebab-akibat, karena tanda dalam indeks tidak muncul jika petandanya tidak hadir. Simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petanda. Hubungan tersebut bersifat arbiter atau semena-mena.

Tujuan analisis ini adalah untuk memahami dan mengetahui tanda yang berupa indeks, ikon, dan simbol yang terdapat puisi pada Suara Dari Rumah-Rumah Miring. Puisi tersebut ditulis oleh Wiji Thukul pada tahun 1987. Secara singkat puisi tersebut menggambarkan keadaan masyarakat miskin yang berada di tengah ibu kota. Wiji Thukul sebagai penulis puisi, menggunakan berabagai tanda yang diimplementasikan dalam bentuk metafora. Puisi bentuk sebuah kritik yang ditujukan kepada pemerintah agar mereka memerhatikan rakyat yang masih kesulitan. Tidak hanya itu, dalam puisi tersebut juga menyampaikan harapan-harapan yang dimiliki oleh rakyat-rakyat kecil tersebut.

Ikon yang terdapat pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring ditemukan pada bait keenam, kesebelas, dan ketujuh belas yaitu “bersama tumpukan gombal-gombal dan piring-piring”, “Dari atap ke atap”, dan “sandiwara obat-obatan”. Pertama,”tumpukan gombal-gombal” tersebut berarti baju atau pakaian. Kata”gombal” sering digunakan oleh masyarakat Jawa yang disamakan dengan pakaian-pakaian. Penggunaan kata”gombal” digunakan untuk merujuk kepada pakaian yang jumlahnya banyak. Kedua, “Dari atap ke atap” berarti atap rumah atau bagian atas rumah. Kata “atap” tersebut disamakan dengan atas atau genting rumah. Akan tetapi, konteks pada puisi tersebut “atap” yang dimaksud adalah langit yang berada di bagian atas atap atau genting rumah. Ketiga, “sandiwara obat-obat” yang digunakan untuk merujuk kepada hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. Obat disamakan dengan kesehatan karena  meraka saling terkait. Obat menjadai bagian dari kesehatan. “Sandiwara obat-obat” tersebut memiliki makna bahwa berita-berita tentang kesehatan yang selalu didengar oleh mereka melalui radio. Ikon-ikon diartikan melalui persamaan yang berkaitan dengan hal-hal yang tersiratkan dalam puisi. Melalui persamaan tersebut, maka dapat diketahui makna yang dimaksud bait-bait pada puisi tersebut.

Indeks yang terdapat pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring ditemukan pada bait pertama dan ketiga Kata-kata yang termasuk pada indeks puisi tersebut seperti “menikmati cicit tikus” dan  “mencium selokan dan sampan”. Pertama, “menikmati cicit tikus” terdapat bait pertama. Arti dari “cicit tikus” adalah suara berisik tikus. Suara cicit tikus tersebut akibat dari adanya tikus di dalam rumah. Puisi tersebut menggambarkan keadaan rumah yang berada di pinggiran kota, berada di wiliyah kumuh dengan banyak sampah. Oleh karena itu, penyebab adanya suara tikus yang sering kali terdengar. Kedua, “mencium selokan dan sampan” terdapat pada bait ketiga. Bait “kami mencium selokan dan sampan” memiliki makna bahwa rumah mereka terletak pada daerah yang sempit sehingga bau selokan dapat tercium. Untuk itu, penyebab adanya bait tersebut adalah gambaran bahwa rumah mereka terletak pada daerah yang sempit. Bau tersebut berasal dari sampah yang terdapat di selokan. Makna indeks  merujuk kepada hubungan sebab-akibat yang dimuncul dalam diksi. Diksi tersebut bisa berupa sebab atau akibat. Cara mentafsirkannya yaitu dengan melihat konteks kalimat pada bait.

Simbol yang terdapat pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring seperti “rumah miring”, “matahari menyelinap”, “hari-hari pengap”, dan “angkat kaki” Keempat simbol yang terdapat pada puisi memeiliki arti yang berbeda-beda. Pada frasa “rumah miring” memiliki makna rumah yang akan roboh. “Rumah miring” menjadi simbol terhadap rumah-rumah kecil yang terletak di pinggiran kota dengan material bangunan yang tidak berkualitas sehingga strukturnya tidak kokoh. Kedua, “matahari menyelinap” merupakan simbol waktu yaitu siang hari karena adanya matahari ketika waktu siang hari, dimana matahari muncul di atap rumah. Ketiga, “hari-hari pengap” merupakan simbol ketidaknyamanan yang dirasakan setiap harinya. Keempat “ angkat kaki” merupakan simbol untuk pergi dari tempat yang ditinggali. Frasa tersebut memiliki makna yang cukup kasar yaitu perintah untuk meninggalkan tempat atau pergi dengan cara diusir. Simbol meruapakan makna konotasi yang terkandung di dalam petanda.

 Berdasarkan analisis yang telah dilakukan di atas maka dapat disimpulkan terdapat beberapa hal seperti adanya ikon, indeks, dan simbol yang ada pada puisi Suara dari Rumah-Rumah. Ikon pada puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring berjumlah tiga, indeks berjumlah dua, dan simbol berjumlah empat. Melalui analisis puisi Suara dari Rumah-Rumah Miring karya Wiji Thukul dengan menggunakan konsep semiotika Pierce, maka dapat mempermudah makna yang terkandung dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Makna yang terkandung puisi yaitu penulis ingin menjelaskan dan menggambarkan bagaimana keadaan orang-orang pinggiran kota. Penulis menjelaskan menggunakan sudut pandang suasana rumah yang berada di pinggir kota yang jauh dari rasa nyaman.

Intertekstualitas Novel Senja, Hujan, dan Cerita yang telah Usai Karya Boy Candra dan Novel Hujan Karya Tere Liye

 A. Latar Belakang 

Artikel ini mengulas kajian mengenai intertekstual dalam novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai karya Boy Candra dengan novel Hujan karya Tere Liye karena ditemukan adanya persamaan atau kemiripan. Adanya kemiripan alur dan tema pada kedua novel membuat keduanya diprediksi memiliki hubungan intertekstualitas.  Berdasarkan perihal yang melatarbelakangi terjadinya kajian intertekstual, peneliti menyakini bahwa kajian intertekstual bisa digunakan sebagai salah satu alternatif bahan ajar pada siswa tentang menulis karya sastra. Pada artikel ini diharapkan kajian atau penelitian intertekstualitas bisa membantu guru dalam memberikan arahan kepada siswa mengenai proses menulis. Siswa bisa melakukan pengamatan terhadap karya sastra milik orang lain dengan membaca untuk menemukan ide menulis dan menjadikannya sebuah karya.


B. Rumusan Masalah 

Pada novel Senja, Hujan, dan Cerita karya Boy Candra dan novel Hujan Karya Tere Liye ini mengangkat rumusan masalah berupa keterkaitan tema dan latar antara kedua novel tersebut.

C. Landasan Teori 

Pada jurnal penelitian ini menggunakan beberapa landasan teori yang dikemukakan beberapa ahli seperti Julia Kristeva yang mengembangkan pemikiran dari Michael Bakhtian, kemudian Teeuw, dan Riffaterre. Teori – teori yang mereka kemukakan menjelaskan alasan munculnya teori intektualitas dan  menjelaskan adanya  hubungan teks satu dengang teks lain. Julia Kristeva secara singkat menjelaskan bahwa alasan munculnya teori intertektualitas salah satunya adalah  karena kegiatan membaca penulis terhadap teks lain sebelum melakukan penulisan teks. Hal tersebut akan mempengaruhi hasil penulisan pengarang. Kemudian menurut Teeuw dan Riffaterre menjelaskan hubungan antara teks satu dengan teks yang lainnya. Jika teks yang diserap dinamakan hipogram sedangkan yang menyerap adalah transformaasi. Kemudian kesimpulan dari pendapat tersebut adalah fenomena resepsi pengarang terhadap teks-teks yang pernah dibaca kemudian dilibatkan dalam hasil karyanya. Teori-teori tersebut digunakan sebagai landasan dari penelitian hubungan antara novel Senja,Hujan, dan Cerita karya Boy Candra dan novel Hujan karya Tere Liye. Berdasarka teori-teori tersebut, maka akan ditemukan alasan mengapa bisa terjadi kesamaan antara dua novel tersebut. 

D. Metode Penelitian 

Berdasarkan kedua rumusan masalah tersebut, penelitian ini menggunakan metode berupa dekskriptif kualitatif yang menganalisis kalimat yang mengekspresikan adanya unsur intrinsik dan hubungan intertekstualitas antara novel Senja, Hujan, dan Cerita dan novel HujanSedangkan metode yang dilakukan yaitu pengelompokan, pengkodean, pengklasifiksi, penginterpretasian, dan pendeskripsian data. Dan kesensitifan data diuji dengan validitas semantik.

E. Hasil Pembahasan 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan tema dan alur antara novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai karya Boy Candra dengan novel Hujan karya Tere Liye. Dasar kesamaan tema dan alur ini didukung oleh kesamaan peristiwa-peristiwa dalam cerita yang menunjukkan hubungan intertekstualitas antara kedua novel. Sebagai karya yang terbit lebih dahulu, novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai adalah hipogram dan novel Hujan sebagai transformasi. Pada tema dan alur transformasi novel Hujan sedikit meneruskan dan banyak menyimpangi hipogramnya.

Hasil analisis pertama mengenai tema, dimana kedua novel memiliki keterkaitan yang erat. Keduanya menjadikan ‘hujan’ sebagai simbol yang mengingatkan tokoh utama terhadap hal-hal yang berarti dalam hidupnya. Novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai menceritakan tokoh aku (tokoh utama) yang berusaha melupakan sahabat perempuan yang dicintainya. Tokoh aku memiliki kenangan indah bersama ‘hujan’, tetapi di akhir waktu kenangan-kenangan tersebut menjadi hal yang menyakitkan dan ingin ia lupakan. Novel Hujan menceritakan seorang tokoh perempuan yang hidup pada tahun 2050, dimana kejadian-kejadian indah dan buruk dalam hidup tokoh tersebut terjadi ketika ‘hujan’. Diperoleh bahwa kedua novel sama-sama dibangun dari tiga tema minor dan satu tema mayor. Tema minor pertama menggambarkan ‘hujan’ sebagai kenangan buruk bagi tokoh, kedua menggambarkan ‘hujan’ sebagai kenangan indah, ketiga menggambarkan kedua tokoh dalam novel berusaha melupakan kenangannya. Sedangkan tema mayor dalam kedua novel adalah tentang cinta dan melupakan. Sedikit perbedannya terletak pada novel Hujan yang banyak dibumbui persoalan keluarga dan persahabatan.

Hasil analisis kedua mengenai alur, dimana kedua novel sama-sama menggunakan alur campuran. Diperoleh bahwa dalam novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai karya Boy Candra dan novel Hujan karya Tere Liye sama-sama terdapat tujuh tahapan alur cerita. Tahap pertama yaitu perkenalan tokoh, kedua permasalahan mulai muncul, ketiga munculnya konflik, keempat konflik mulai memuncak, kelima puncak konflik, keenam penyelesaian konflik, dan terakhir tahap penyelesaian. Tahapan-tahapan tersebut menunjukkan alur cerita berdasarkan kriteria waktu. Sedangkan alur cerita berdasarkan kriteria isi, kedua novel termasuk plot peruntungan karena seluruh isi cerita berdasarkan nasib dan peruntungan tokoh utama.

 

 

Estetika dalam Naskah Drama Zetan Karya Putu Wijaya

Kajian estetika dalam naskah drama Zetan karya Putu Wijaya

Naskah drama Zetan merupakan salah satu karya dari penulis legendaris yaitu Putu Wijaya. Naskah drama ini terbit pada tahun 2006. Naskah drama ini menceritakan tentang seorang guru yang memutuskan keluar dari sekolahan dimana dirinya bekerja. Guru tersebut merasa tidak nyaman dengan sistem pendidikan yang diterapkan oleh  sekolahan tersebut. Sistem yang dijalankan tidak sesuai dengan prinsip yang dianutnya, hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk keluar. Ia menyampaikan ketidaksetujuannya dan kritiknya dengan monolog dan secara tersurat. Ia memutuskan mencari pekerjaan selain menjadi guru seperti menjadi tukang becak. Tetapi dirinya tidak merasa nyaman karena jati dirinya sesungguhnya yaitu mengajar. Hingga suatu hari datanglah seseorang yang bernama Zetan yang ingin berguru dengannya. Zetan ingin diajari bagaimana cara menjadi pahlawan. Kemudian guru pun mampu mengabulkan keinginan dari Zetan tersebut dengan memberikan nasihat dan kiat-kiat bagaimana menjadi seorang pahlawan.  Selain memberi nasihat, guru pun juga memberikan saran untuk Zetan agar pergi ke tempat bernama Indonesia supaya benar-benar menjadi pahlawan sejati.

Setiap karya sastra memiliki unsur estetik atau keindahan. Unsur estetik bisa secara langsung tersurat ataupun tersirat sehingga perlu telaah lebih mendalam untuk mengetahuinya. Salah satu unsur estetika pada karya sastra terdapat pada penggunaan bahasa. Unsur estetik menjadi sumber daya tarik untuk pembaca dalam  menikmati suatu karya sastra. Tidak hanya menjadi sumber daya tarik, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan kepada pembaca oleh pengarang. Naskah drama merupakan salah satu jenis karya sastra dan pasti juga memiliki unsur-unsur estetik yang terkandung. Adapun unsur estetik karya  dapat dikaji menggunakan enam parameter seperti kesatuan, keserasian, kesimestrisan, pertentangan, perlambangan, dan kebahasan. Berikut ini kajian unsur estetik dalam naskah drama Zetan karya Putu Wijaya dengan menggunakan parameter tersebut.

Melalui parameter kesatuan, keestetikan naskah drama dapat dilihat melalui keruntutan alur cerita. Alur yang digunakan pada sebagian besar naskah drama adalah alur maju. Begitupun dengan naskah drama Zetan yang juga menggunakan alur maju. Karena cerita yang disajikan termasuk cerita yang sederhana dan berupa percakapan maka sangat diperlukan penggunaan alur maju. Pada awal cerita nakah drama ini, tokoh guru melakukan monolog dengan menyampaikan pendapatnya tentang sistem pendidikan di Akademik Mandiri yang buruk dan tidak sesuai dengan prinsip hidupnya. Kemudian dilanjutkan percakapan dengan beberapa orang yang berada di rumah seperti istrinya.  Penggunaan alur cerita yang runtut membuat pembaca tidak merasa bingung saat menikmatinya.

Adapun kesimetrisan yang terdapat pada naskah drama ini dilihat melalui judul yang digunakan dengan isi cerita yang terkandung. Penggunaan kata ”Zetan” pada judul memiliki arti “Setan“ yang ditunjukkan dengan memunculkan tokoh yang bernama Zetan. Jika setan pada kehidupan sehari-hari digambarkan dengan karakter  yang buruk dan tercela, tetapi pada naskah drama ini penulis menggambarkan setan sebagai karakter yang baik. Hal itu dibuktikan dengan dirinya ingin menjadi pahlawan dan bisa membantu orang banyak. Tetapi juga terdapat maksud tersirat dengan menggunakan judul ” Zetan” yaitu menggambarkan keburukan dari sistem pendidikan Indonesia sama halnya dengan sifat asli makhluk setan yang buruk dan licik.

Pada naskah drama ini unsur pertentangan digambarkan pada konflik batin tokoh guru dan setan. Tokoh guru merasa sangat marah dan kecewa dengan buruknya sistem birokrasi pendidikan. Ia merasa sedih dan miris dengan bangsa ini jika sistem  yang buruk tetqpi masih tetap bertahan tanpa adanya perubahan. Ia juga merasa cemas dengan kelangsungan bangsa ini, jika sistem pendidikan yang hanya mementingkan kuantintas tanpa memperdulikan kualitas. Semua hanya mementingkan keuntungan tanpa memperhatikan apakah cara yang digunakan sesuai atau tidak. Sehingga sumber manusia yang tercipta juga buruk. Mereka akan terbentuk karakter yang hanya fokus kepada hasil tanpa peduli dengan prosesnya, sehinggan terbentuklah  karakter sebagai orang-orang yang serakah. Kemudian konflik batin seorang Setan yang merasa bingung dan terancam. Dirinya berusaha untuk menjadi yang baik dengan membantu negara Indonesia yang bobrok, tapi ketika dirinya kembali ke bangsanya justru tidak diterima karena dianggap sebagai ancaman. Karena sesungguhnya setan bukan tercipta untuk membantu kebaikan tetapi suatu keburukan. Hal itu membuat orang-orang di bangsanya terancam karena semua orang telah berubah menjadi baik.

Jika dilihat dari parameter keserasian, Putu Wijaya menyandingkan unsur sosial masyarakat dan pendidkan. Penyandingan kedua unsur tersebut digunakan sebagai pengembangan tema yang diangkat yaitu kritik terhadap pendidikan. Penyandingan antar unsur tersebut membantu penulis menyampaikan pesan dan kritik  sehingga dapat diterima oleh pembaca. Terkadang tidak adanya media yang sesuai  maka  kritik sulit untuk tersampaikan.  Oleh karena itu, dengan menggunakan  karya sastra ini kritik terhadap pemerintah dapat tersampaikan dengan baik.

Keestetikan naskan drama ini juga dapat dilihat dari parameter keseimbangan, dimana keseimbangan tersebut dapat dilihat menggunakan sudut pandang yang digunakan. Naskah drama Zetan menggunakan sudut pandang orang pertama “aku” yang berperan sebagai tokoh utama yaitu guru. Untuk melihat sudut pandang dan  tokoh utama yang terdapat di naskah drama, maka dapat dilihat melalui percakapan yang terbanyak. Tokoh utama “aku” menjadi sentral cerita dengan ditunjukkan melalui monolog yang dilakukannya dan dialog-dialognya yang dominan daripada tokoh yang lain. Monolog yang dilakuakannya sendiri menjadi kunci jalannya cerita pada naskah drama ini. Seluruh pesan dan kritik terdapat pada monolog yang disampaikan oleh tokoh “aku” yaitu guru. Tetapi munculnya tokoh lain dalam setiap percakapan memiliki peran yang sangat penting juga. Karena tanpa adanya tokoh lainnya cerita tidak akan berjalan dengan baik dan muncullah keseimbangan pada cerita. 

Parameter selanjutnya adalah perlambangan atau simbol yang terdapat pada naskah drama. Kata “Zetan” yang berarti setan menjadi simbol kemarahan penulis terhadap pemerintahan bangsa ini. Sistem pemerintahan yang rusak dan sistem pendidikan yang buruk. Sistem pendidikan yang hanya mementingkan biaya saja tanpa memperdulikan kualitas yang diciptakan. Semua dinilai menggunakan angka seperti biaya dan kelulusan dengan nilai tinggi  menjadi hal yang utama dalam sistem pendidikan ini. Karkater dan moral tidak pernah dipedulikan, sehingga menciptakan orang-orang yang  memiliki budi pekerti yang buruk. Akibatnya terlihat pada orang-orang yang duduk di pemerintahan. Mereka yang tidak berkompeten dan hanya bisa mengandalkan kekayaannya saja. Maka terciptalah pemerintah yang bobrok dengan banyaknya koruptor yang bersarang. Semua kritik tersebut disampaikan tokoh utama melalui monolog dan dialog dengan tokoh lain.

Keestetikan yang terakhir dilihat dari segi bahasa. Pada naskah ini, Putu Wijaya mengungkapkan kritik dan pendapatnya dibalut dengan unsur sastra yaitu keindahan yang ditunjukkan pada penggunaan bahasa. Pemilihan kata yang sederhana dan tidak rumit dapat memudahkan pembaca memahami maksud yang disampaikan. Tidak ada penggunaan majas sehingga lebih memudahkan pembaca dalam memahami teks. Terdapat kalimat-kalimat sindiran yang menjadi daya tarik untuk pembaca.

Dengan mengkaji suatu karya menggunakan teori estetik, kita dapat mengetahui keindahan yang terkandung dari suatu karya. Selain itu, kita juga dapat mengerti maksud dari karya sastra tersebut tercipta. Melalui keindahan suatu karya sastra, pendapat dan kritik dapat tersampaikan dengan baik dan bisa diterima oleh banyak orang. Naskah drama Zetan  karya Putu Wijaya ini berperan sebagai media untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Penyampaian kritik dibungkus dengan unsur keindahan dalam karya sastra sehingga dapat diterima oleh banyak masyarakat.