Judul : Manusia dan Badainya
Nama Pengarang : Syahid Muhammad
Penerbit :Gradien Mediatama
Tahun Terbit : 2022
Novel ini
bercerita tentang seorang laki-laki bernama Janu dan kedua sahabatnya yaitu
Pang dan Nata. Novel ini mengangkat tema tentang isu-isu psikologi. Salah satu
isu yang paling menonjol adalah ketoxican sebuah hubungan, baik antara orang
tua dan anak atau hubungan dengan pasangan. Saat ini, isu-isu tersebut sudah
sangat sering dibahas melalui berbagai media mulai dari film, musik, novel, dan
berbagi konten di media sosial. Meskipun sudah sering dibahas, tetapi berbagai
kejadian yang berhubungan dengan ketoxic-an masih kerap ditemukan.
Janu adalah
seorang anak laki-laki yang tumbuh di tengah keluarga yang tidak begitu
harmonis. Kedua orang tuanya memiliki pandangan hidup dan latar belakang yang
sangat berbeda. Ayahnya merupakan seorang petani, sedangkan ibunya adalah
seorang pegawai bank yang berkududukan sebagai supervisor. Ibu Janu sangat
mengekang Janu dalam masalah pendidikan dan karir. Sejak kecil Janu dituntut
harus menjadi siswa yang berprestasi di sekolah, kemudian ketika kuliah ia
harus masuk di jurusan yang sudah ditentukan oleh sang ibu. Meskipun hal
tersbut bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Janu. Dengan alasan demi
kebaikan, ibunya selalu bersikukuh agar Janu menuruti keinginan ibunya
tersebut.
Sedangkan
ayahnya merupakan salah satu orang yang memberi kebebasan kepada Janu. Oleh
karena itu, Janu sangat nyaman saat berada di sisi ayahnya. Bagi Janu, ayahnya
adalah pelindung hidupnya. Namun, ibu Janu memiliki dominasi yang kuat dalam
keluarga, alhasil ayahnya pun tidak bisa menentang terutama hal-hal yang
berkaitan dengan masa depan Janu. Ayahnya selalu berpesan kepada Janu bahwa ia
harus selalu patuh kepada ibunya. Mau tidak mau, akhirnya Janu pun mengikuti
pesan ayahnya. Hingga suatu ketika, ayahnya pun meninggal dunia. Janu merasa
kehilangan tempat ternyamannya.
Kehilangan
ayahnya membuat ia memiliki rasa trauma. Rasa trauma itu muncul selain akibat
dari meninggal ayahnya, tetapi juga dari rasa ketidaknyamanan saat berada di
rumah bersama ibunya. Untuk mengatasi rasa trauma tersebut ia pun pergi ke
seorang psikolog. Selain itu, ia juga pergi dari rumah dan memutuskan tinggal
sendiri. Meskipun keputusan untuk tinggal sendiri ditentang oleh ibunya, namun
ia tetap melakukannya.
Janu memiliki dua
sahabat bernama Pang dan Nata. Keduanya pun juga memiliki perjalanan hidup yang
tidak mudah. Awalnya Janu dan Pang sudah
bersahabat sejak SMA hingga mereka membuat usaha bersama. Kemudian datanglah
seorang bernama Nata. Pada awalnya mereka hanya relasi kerja biasa. Namun
banyaknya persamaan dalam menjalani kehidupan, ikatan ketiganya pun menjadi
kuat. Ketiganya memiliki persamaan yaitu mereka sama-sama berasal dari keluarga
yang kurang harmois. Hari-hari mereka lalui bersama, begitupun dalam menghadapi
masalah-masalah yang datang, tidak hanya masalah bisnis semata tetapi juga masalah-masalah
pribadi.
Dalam buku ini
menggambarkan bahwa manusia itu beragam. Tidak hanya beragam dalam kearifannya
semata, namun masalah yang mereka hadapi pun sangat bermacam-macam. Setiap
tokoh yang ada dalam buku ini datang dengan masalahnya masing-masing. Buku ini
menunjukkan sisi terdalam dari perasaan seseorang tentang hidupnya. Bentuk
curahan hati, bagaimana mereka keluar dari masalah dan berbagai solusi-solusi
kehidupan yang telah dicoba agar dapat terbebas dari belenggu masalah.
Salah satu
permasalahan yang sering kali muncul dalam buku ini adalah adalah ketoxican
dalam sebuah hubungan, baik hubungan orang tua dan anak atau hubungan
percintaan. Buku ini memberikan informasi bahwa bentuk dari hubungan toxic
sangatlah beragam. Dan apabila terus dilanjutkan dan menjadikan hal tersebut
sesuatu yang normal, maka akan sangat membahayakan keadaan psikologi dan fisik
seseorang. Oleh karena itu, keberanian untuk memutuskan hubungan toxic sangat
diperlukan. Dalam buku ini, bahayanya hubungan toxic digambarkan oleh tokoh
yang menjadi korban. Mereka bercerita bagaimana perasaan yang sedang dialami.
Rasa khawatir, rasa takut, rasa kecewa, rasa bingung, dan rasa cemas bergulat
menjadi satu. Tidak hanya memberi informasi tentang beragamnya bentuk hubungan
toxic, namum penulis juga menyampaikan berbagai solusi yang perlu dilakukan
saat berada di situasi yang tidak menyenangkan tersebut.
Gaya bahasa yang
digunakan oleh penulis dalam buku ini sangatlah menyentuh. Pemilihan bahasanya ringan
dan mudah dipahami pembaca. Diksi-diksi yang digunakan sangat menggambarkan isi
hati dan perasaan setiap tokoh. Setiap plot dalam cerita mem
Kekurangan dalam
buku ini adalah pendekatan religius yang sangat kurang. Dalam menyelesaikan
masalah, para tokoh hanya memanfaatkan akal pikiran dan perasaan dirinya saja
tanpa mendekatkan diri kepada Tuhan. Padahal tempat yang paling efektif untuk
menemukan solusi dalam setiap masalah, hanyalah kepada Tuhan.

Kerennn
BalasHapus