Kentalnya Maskulinitas Masyarakat Dalam Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

 





Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas



Judul                                 : Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Sutradara                           : Edwin

Produser                            : Muhammad Zaidy

Penulis Skenario               : Edwin dan Eka Kurniawan

Penata Musik                    : Dave Lumenta

Sinematografi                    : Akiko Ashizawa

Penyunting                        : Lee Chatametikool

Perusahaan Produksi         : Palari Films, Phoenix Films, E&W Films, Match Factory, Kaninga Pictures

Tanggal Rilis                     : 8 Agustus 2021

Durasi                                : 114 menit

Bahasa                               : Indonesia

 

Film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas bercerita tentang seorang pemuda bernama Ajo Kawir ( Marthino Lio) yang sangat berani dalam hal apapun. Ia tidak pernah takut terluka atau pun mati. Ia memiliki hasrat bertarung yang besar. Siapapun yang berani mengusiknya akan habis di tangannya. Salah satu yang menjadi kekurangan di dalam dirinya adalah burungnya tidak bisa berdiri atau dalam medis disebut sebagai impoten. Berbagai cara telah ia lakukan agar penyakit tersebut bisa sembuh. Salah satu caranya adalah pergi ke tukang urut yang bernama Mak Jarot. Akan tetapi tidak pernah pernah berhasil. Terkadang dirinya merasa payah karena kekurangan yang ia miliki. Ia merasa semua keberanian yang ada di dalam dirinya hanyalah sesuatu yang sia-sia. Apalah arti seoarang laki-laki yang memiliki burung yang tidak bisa berdiri.

Karena memiliki kekuarangan tersebut Ajo Kawir melampiaskan kekesalannya dengan berkelahi dan menantang semua orang untuk beradu dengannya. Ia ingin menunjukkan bahwa, dirinya adalah seorang laki-laki yang kuat, berani, dan tidak bisa terkalahkan dengan siapapun. Meskipun memiliki kekurangan yang cukup memalukan untuk standar seorang laki-laki.

Hingga suatu hari, Ajo Kawir bertemu dengan seorang pendekar perempuan yaitu Iteung (Ladya Cheryl). Mereka pertam kali bertemu di rumah Pak Labe. Pertemuan pertama mereka pun tidak pada suasana yang indah karena mereka saling berkelahi ketika itu. Keduanya saling tertarik satu sama lain sejak pertemuan pertama mereka. Keduanya saling bertemu satu sama lain dan saling mengirim salam melalui radio. Suatu ketika Iteung mengungkapkan rasa suka kepada Ajo Kawir. Akan tetapi, Ajo Kawir tidak segera memberi jawabannya. Sebenarnya, Ajo Kawir pun mencintai Iteung, tetapi ia tidak bisa langsung menjawabnya. Ia khawatir jika Iteung mengetahui kelemahannya, apakah Iteung akan menerima. Jikalau Iteung dapat menerima pun, Ajo Kawir tetap memiliki kekhawatiran karena dirinya tidak bisa memuaskan Iteung. Hingga berhari-hari dan berminggu-minggu pun Ajo Kawir tidak segera memberi jawaban.

Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama yaitu Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas karya novelis terkenal Eka Kurniawan. Film ini sangat unik karena mengangkat tema tentang toxic maskulinitas yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pada film ini seorang Ajo Kawir yang memiliki kekurangan sebagai seorang impoten, berusaha untuk menjadi laki-laki yang berani Ajo Kawir menyalurkan sisi kejantanannya dengan kekerasan yaitu senang berkelahi. Hal tersebut ia lakukan untuk menutupi kekuarang yang berupa impoten.

Film ini menggunakan alur maju, sehingga dapat memudahkan penonton untuk memahami film ini. Film ini menggunakan latar pada tahun 90-an. Bahasa yang digunakan dalam dialognya didominasi dengan gaya bahasa baku yang disesuaikan dengan latar waktu. Penggunaan bahasa yang tersebut menjadi salah satu keunikan dalam film ini. Dengan penggunaan gaya bahasa tersebut, dapat membawa pononton merasakan suasana tahun 90-an. Kekurangan yang terdapat pada film ini yaitu adegan kekerasan yang sangat kental sehingga sebaiknya penonton yang menyaksikan sudah berusia 18 tahun keatas. Himbauan tersebut bertujuan agar tidak ada dampak buruk yang diakibatkan dari film ini.

Novel dan film memiliki benang merah yang sama yaitu menceritakan perjalanan hidup seorang laki-laki jagoan yang memiliki penyakit impoten. Namun terdapat plot cerita pada novel yang tidak divisualisasikan dalam film. Alasan utamanya yaitu untuk mempersingkat waktu atau durasi film. Selain itu terdapat beberapa plot cerita memiliki unsur yang sangat vulgar, sehingga tidak patut untuk divisualisasikan. Meskipun terdapat pengurangan plot, tetapi secara garis besar cerita dalam film tidak menyimpang dari novel. Untuk penikmat film yang belum sempat menonton di bioskop, saat ini dapat menontonnya di Netflix.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar