Judul : Larung
Genre :
Fiksi
Penulis :
Ayu Utami
Penerbit :
KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Resensi Singkat Novel Larung
Novel Larung merupakan novel kedua dari dwilogi Saman karya Ayu Utami. Kedua novel tersebut memiliki keterkaitan cerita pada isi yang dipaparkan. Penggunaan judul “Larung” diambil dari tokoh utama sama halnya dengan “Saman”. Isi dari kedua novel tersebut mengangkat permasalahan atau isu-isu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Unsur feminisme pada kedua novel cukuplah kental, karena tokoh-tokoh yang paling sering berbicara adalah tokoh perempuan. Mereka menyampaikan keresahan yang dirasakan yang tersiratkan di berbagai peristiwa yang terjadi pada novel. Kesamaan lainnya terlihat pada latar waktu yang digunakan yaitu pada masa kekusaan ordeba.
Pada
awal novel ini mengisahkan seorang pemuda bernama Larung yang memperjuangkan
kematian neneknya yang benama Anjani. Simbah Anjani telah hidup selama 120
tahun tetapi tidak kunjung meninggal meskipun seluruh raganya sudah tidak
berfungsi. Larung adalah cucu tersayang simbah Anjani. Larung ingin simbahnya
lekas meninggal karena dirinya sudah tidak kuasa melihat ketidakberdayaan
yang dirasakan neneknya. Larung mencari tahu mengapa neneknya tidak kunjung
mati. Hingga suatu hari, ia mengetahui bahwa di dalam tubuh neneknya terdapat
unsur-unsur mistis yang menyebabkan dirinya tidak bisa meninggal seperti manusia
normal.Unsur-unsur mistis yang diyakini neneknya sangat berbanding terbalik
dengan pemikiran seorang Larung yang sangat rasional. Meskipun begitu, Larung
tetap menyelesaikan misi tersebut hingga neneknya berhasil meninggal dengan
tenang.
Melalui
tokoh simbah Anjani, secara tersirat Ayu Utami ingin mematahkan stigma
yang menganggap bahwa perempuan adalah manusia yang lemah, bodoh, dan
rendahan. Simbah Anjani merupakan gambaran dari sosok perempuan yang kuat,
tangguh, dan berani menentukan jalan
hidupnya. Ia bisa memilih bagaimana dirinya hidup tanpa harus terikat dengan
budaya adat masyarakat yang seringkali memunculkan ketidakadilan pada
perempuan. Ketidakadilan gender
seringkali menjadikan perempuan berada di posisi yang serba salah. Apapun yang
mereka lakukan seringkali hanya di pandang sebelah mata. Perempuan salah
apabila hanya memiliki sedikit pengetahuan dan perempuan pun salah apabila
dapat melebihi seorang laki-laki. Simbah Anjani seorang perenpuan yang berani
menentukan jalan hidupnya meskipun bertentangan dengan adat dalam keluarganya.
Ia adalah perempuan yang tangguh dengan berani mengahadapi resiko dari
keputusan yang diambilnya.
Pada
cerita selanjutnya, Ayu Utami memunculkan
kembali persahabatan antara Yasmin, Shakuntala, Cok, dan Laila. Ayu Utami
mengungkapkan pandangannya mengenai feminisme melalui keempat tokoh tersebut.
Tidak hanya mengungkapkan tentang pandangannya dan pendapatnya, Ayu Utami juga
menyampaikan beberapa kritik terhadap keadaan sosial masyarakat. Pendapat dan kritik sosial dikemas melalui pemikiran dan perbuatan tokoh-tokoh tersebut yang
kemudian diimplementasikan dalam sebuah percakapan ataupun monolog tokoh.
Keempat sahabat tersebut digambarkan
sebagai perempuan yang kuat, mandiri,
tangguh, dan berani menentukan kehidupannya meskipun sering dianggap
menyimpang dan tidak sesuai dengan
kebiasaan sosial masyarakat.
Cerita
keempat sahabat tersebut berputar pada percintaan dan seksualitas. Pada novel Larung ini, kisah keempat sahabat berlatar di New
York. Ayu Utami menggambarkan
masing-masing keempat tokoh ini melalui pendapat tokoh lain. Oleh karena itu,
muncullah beberapa informasi yang tidak semua tokoh mengetahuinya. Mereka pergi
bersama-sama ke New York dengan memiliki tujuan masing-masing. Yasmin ingin bertemu
dengan selingkuhan yaitu Saman, Laila ingin bertemu denagn pacarnya yaitu
Sihar, Shakuntala akan mengadakan pertunjukkan, dan Cok hanya ingin melihat
pertunjukkan Shakuntala.
Berbagai
pandangan mengenai deskriminasi terhadap
perempuan disampaikan melalui percakapan antar tokoh dan renungan terhadap diri
mereka. Mereka adalah perempuan penuh dengan prinsip dan sangat menentang
terhadap deskriminasi perempuan yang terus membudaya di masyarakat.
Terutama stigma-stigma buruk
perempuan yang selalu melekat pada
masyakarakat seperti mempermasalahkan pakaian terbuka perempuan, tidak
diperbolehkannya pulang malam bagi perempuan, dan selalu dianggap sebagai pihak
yang salah apabila terjadi kekerasan seksual. Tidak hanya itu, mereka juga
menentang anggapan bahwa perempuan hanya bisa menjadi objek dalam hal
seksualitas. Menurut mereka, perempuan memiliki hak untuk memuaskan nafsu
seksualnya, tidak hanya menjadi pemuas
nafsu seksual bagi laki-laki. Permasalahan gender seperti itu sangat sulit
untuk dibahas karena masih dianggap sebagi hal yang tabu .Faktor budaya
yang sudah melekat menjadi salah satu
penyebab utama ketidakadilan bagi perempuan masih belum benar-benar terwujud.
Selain
berfokus pada kritik deskriminasi terhadap perempuan, pada novel Larung ini Ayu Utami
juga menyampaikan kritik terhadap pemeritah ordeba. Dapat terlihat pada
penggunaan latar waktu dan peristiwa-peristiwa yang menjadi alur cerita pada
bagian akhir. Hal itu ditujukkan pada plot dimana Saman berusaha menyelematkan
Larung dan kedua temannya yang sedang buron. Mereka menjadi incaran intel
pemerintah karena dirinya berusaha membantu buruh yang mengalami ketidakadilan
dalam dunia kerja. Ia dianggap sebagai penentang bagi pemerintah sehingga perlu
untuk diamankan. Melalui plot terkahir ini, Ayu Utami ingin menunjukkan kepada
pembaca bahwa pemerintahan ordeba tidak ramah kepada rakyat. Pendapat rakyat
selalu dibungkam dan selalu dituntut
untuk patuh tetapi pemerintah sendiri melakukan kesewenang-wenangan. Apabila
rakyat melawan maka siksa yang kejam yang akan didapat.
Kelebihan dan Kekurangan Novel Larung
Kelebihan
dari novel ini terlihat dari bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa yang
cukup jelas dan tidak berbelit-belit, memudahkan dalam menyampaikan pesan yang terkandung pada
novel kepada pembaca. Pembahasan yang
diambil dari kehidupan sehari-hari sehingga dapat dengan mudah mengekorelasikan dalam kehidupan nyata. Meskipun terdapat beberapa majas dan kata
kiasan yang membutuhkan penafsiran dari pembaca untuk memahaminya. Kemudian
kekurangannya terdapat pergantian sudut
pandang “aku” yang tiba-tiba terjadi pada beberapa plot. Kurang adanya tanda
dalam perpindahan sudut pandangan
tersebut, membuat bingung pembaca dalam
menentukan pembahasan pada plot
tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar