Syahid Muhammad atau biasa dikenal
dengan Iid, merupakan salah satu penulis Indonesia yang memiliki karya-karya
yang unik. Sebagian besar karya-karyanya mengangkat isu-isu tentang kesehatan
mental. Isu-isu kesehatan mental tersebut dipadukan dengan cerita-cerita yang
bertemakan romansa. Atau bahkan juga dipadukan dengan prosa, puisi, dan esai. Isu
kesehatan mental menjadi tema pokok dalam setiap karyanya, karena didasarkan dengan
latar belakang dirinya. Iid pernah mengalami mental illness yaitu anxiety
disorder atau gangguan kecemasan pada masa lalu. Menulis karya menjadi sebuah
media yang digunakan untuk menyembuhkan mental iilnes tersebut. Selain itu, ia
juga merasa resah dengan isu-isu kesehatan mental yang masih di pandang sebelah
mata oleh masyarakat. Hal-hal tersebut menjadi alasan utama mengapa Iid sangat concern dengan isu-isu kesehatan mental
dalam setiap karyanya.
Berikut ini karya-karya Syahid
Muhammad atau Iid yang mengangkat tema pokok isu-isu kesehatan mental;
1. Kala (2017)
Kala merupakan
novel pertama Syahid Muhammad yang berkolaborasi dengan Stefani Bella. Novel
ini terbit pada tahun 2017. Terbitnya novel ini menjadi penanda debutnya Syahid
Muhammad sebagai penulis sastra di Indonesia. Novel ini bercerita tentang
sepasang kekasih bernama Saka dan Lara. Keduanya memiliki latar belakang yang
sangat berbeda, mulai dari pekerjaan dan latar belakang kehidupannya. Mereka
harus menghadapi berbagai macam rintangan dan salah satu masalah yang muncul
disebabkan karena latar belakang yang sangat berbeda tersebut.
2. Amor Fati (2017)
Amor Fati merupakan
sekuel atau lanjutan dari novel Kala. Masih
sama bercerita tentang sepasan kekasih Saka dan Lara. Permasalahan semakin
kompleks dengan datangnya beberapa orang baru. Hal tersebut menjadi sebuah
pembuktian, seberapa kuat cintai keduanya.
3. Egosentris (2018)
Egosentris merupakan
novel ketiga Syahid Muhammad. Novel ini terbit pada tahun 2018. Novel ini
bercerita tentang tiga sahabat yang memiliki karakter yang berbeda antara satu
dengan yang lain. Ketiga sahabat itu adalah Fatih, Saka, dan Fana. Persahabatan
ini sangat unik, berbeda dengan persahabatan lainnya. Meskipun sama-sama saling
mengenal, namun mereka memiliki rahasia-rahasi masa lalu yang saling mereka
tutupi.
4. Paradigma (2018)
Novel keempat Syahid Muhammad
berjudul Paradigma. Novel ini terbit
pada tahun 2018. Novel Paradigma bercerita
tentang pemuda bernama Rana yang memiliki kehidupan yang tidak biasa.
Kesedihan, penderitaan, air mata, kehilangan, dan kerinduan merupakan sebuah
rasa yang biasa ia hadapi. Rana digambarkan sebagai pribadi yang menderita mental disorder. Salah satu mental
illness yang memiliki kondisi pada suatu waktu tertentu ia bisa berubah menjadi
sosok tertentu.
5. Saddha (2019)
Saddha karya
kelima Syahid Muhammad yang terbit pada tahun 2019. Karya ini bukan termasuk
novel tetapi sebuah prosa yang menceritakan kehidupan penulis yaitu Iid. Sudut
pandang yang digunakan yaitu sudut pandang orang pertama yaitu aku (penulis).
Penulis bercerita tentang kehidupan yang laluinya, seperti bagaimana kehidupan
yang ia lalui di masa lalu, pemikiran-pemikirannya tentang kehidupan,
hubungannya dengan orang lain seperti teman, keluarga, tau bahkan kekasihnya,
dan bagaimana hubungannya dengan Tuhan.
6. Kamu Gak Sendiri: Kamu Lagi Terbentuk
(2019)
Karya keenam Syahid Muhammad ini
memiliki nuansa yang berbeda dengan buku-bukunya yang lain. Kamu Gak Sendiri: Kamu Lagi Terbentuk merupakan
buku self improvement yang diangkat
dari pengalaman hidupnya. Buku ini membahas tentang hal-hal yang berkaitan
dengan perasaan cemas, resah, adanya serangan panic, kekuatan yang besar,
kondisi mental, perundungan, dan berbagai keresahan lainnya. Penulis ingin
mengekspresiakn apa yang pernah ia rasakan.
7. 25 Jam (2019)
25 Jam merupakan
karya Syahid Muhammad yang ketujuh. Novel ini juga merupakan hasil kolaborasi
antara Syahid Muhammad dan Stefani Bella. Novel ini menjadi hasil kolaborasi
mereka yang ketiga. Novel ini bercerita
tentang tokoh bernama Abimana dan Azalea. Kedua orang memiliki kisah yang
berbeda kemudian dipertemukan pada sebuah perjalanan. Mereka sama-sama berada
pada situasi mencari sebuah rumah yang nyaman sesungguhnya. Dan pada akhirnya
mereka dipertemukan dan bersama-sama mencari jawaban atas pertanyaan
masing-masing.
8. Duduk Dulu: Jangan Lupa Jadi Manusia
(2021)
Duduk Dulu: Jangan Lupa Jadi Manusia merupakan sebuah esai dan prosa tentang memahami arti
duduk. Pada buku ini, Iid memberi pengertian tentang kegiatan duduk. Duduk
dapat dianalogikan dengan berbagai macam seperti mengintrospeksi diri dan
mengenal diri sendiri. Buku ini terbit pada tahun 2021 dan merupakan buku
kedelapan Syahid Muhammad.
9. Manusia dan Badainya (2022)
Manusia dan Badainya merupakan karya terbaru Syahid Muhammad yang terbit pada tahun 2022.
Novel ini menceritakan tentang tokoh bernama Janu yang sedari remaja memiliki
kecemasan dan keresahan yang sangat berlebih sehingga mengakibatkan dirinya
mengalami anxiety disorder. Kecemasan dan keresahan tersebut hadir karena
faktor keluarganya sendiri. Setelah tumbuh dewasa, ia bertemu dengan berbagai
orang dan salah satunya kedua sahabatnya. Mereka sama-sama memiliki keresahan
dan kecemasan. Mereka bertiga hidup bersama dengan saling berbagi rasa dan saling menguatkan.